 Para pecinta program Newsdotcom, Kantor Berita Republik Mimpi, terpaksa “gigit jari” untuk sementara waktu. Pasalnya, tayangan parade politik itu, berhenti tayang.Sikap itu diambil sebagai bentuk dukungan para pengisi acara kepada Jarwo Kwat (JK), pemeran karakter wakil presiden acara itu.
Pada siaran langsung yang ditayangkan Metro TV pada Minggu (6 Januari) malam, Effendi Gazali selaku pemeran penasihat kepresidenan mengumumkan hal itu. “Sangat mungkin, ini adalah episode terakhir kami,” kata Effendi yang juga bertindak sebagai penggagas program di akhir acara tersebut.
Newsdotcom malam itu, mengangkat tema kasus yang tengah menimpa JK. JK tidak datang karena merasa ketakutan akan keselamatan dirinya. “Kami harus fair. Selama ini, kami mengangkat kasus orang lain. Saat ini, ketika salah seorang di antara kami juga terkena masalah, kami harus bahas,” ucap dia di tengah acara.
Pak “Wapres JK” tersandung masalah hukum setelah dilaporkan seorang bernama Alex Tjocokrorahardjo atas tuduhan penipuan dan penggelapan karena menyerahkan cek palsu. Bahkan, statusnya di Polres Tangerang sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Kemarin (7 Januari), Kasatreskrim Polres Tangerang Kompol Budhi Herdi menyatakan bahwa JK masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Sebab, dari dua surat pemanggilan yang dilayangkan, tidak sekali pun ditanggapi JK.
Namun, JK akhirnya berinisiatif mendatangi Polres Tangerang. Dia tiba pukul 10.00 dan diperiksa sampai pukul 15.30. Setelah itu, JK dipindahkan ke Kejaksaan Negeri Tangerang.
Baik di Polres Tangerang maupun Kejaksaan Negeri Tangerang, JK tidak sendirian. Dia mendapat dukungan moril dari rekan sejawatnya.
Selain segenap keluarga besar Republik Mimpi, seperti Suharta, Megakarti, Gus Pur, Habudi, Olga Lidya, Anya Dwinof, dan Effendi Gazali, ada anggota PASKI. Di antaranya, pelawak Tarsan, Kadir, Doyok, Derry, dan Ginanjar.
Dari hasil pemeriksaan, JK tidak perlu ditahan. Atas jaminan 29 pendukung acara Newsdotcom, JK diberi status tahanan luar. Meski begitu, para rekan sejawatnya masih belum puas. Mereka menganggp JK tidak bersalah dan harus dinyatakan bebas. “Ketidakadilan itu akan terus kami lawan,” kata Gus Pur.
Gus Pur memastikan bahwa Newsdotcom untuk sementara tidak akan menemui penggemarnya di layar kaca. “Itu merupakan bentuk solidaritas kami kepada Saudara Sujarwo. Kami tidak akan menari di atas penderitaanya,” ujar pria yang mempunyai profesi asli sebagai dokter umum tersebut.
Bagaimana kontrak dengan Metro TV? “Untuk tahun kedua ini, kami belum tanda tangan kontrak. Jadi, tidak ada kewajiban tayang,” lanjutnya. “Pihak Metro TV nggak masalah. Mereka mengerti idealisme kami,” tambah Effendi.
Sampai kapan akan berhenti tayang? “Hingga Sujarwo dapat keadilan,” jawab Gus Pur. Kejadian itu bermula pada 25 Juni 2006, saat Persatuan Artis Komedi Indonesia (PASKI) membuat acara 9 Jam Tertawa. Oleh panitia, JK ditunjuk sebagai koordinator pengisi acara. “Mereka (panitia, Red) membayar dengan cek,” terang JK.
Pada cek yang dikeluarkan seseorang bernama Andara itu tertulis dana sebesar Rp200 juta. Sejumlah Rp10 juta diberikan sebagai komisi. Jadi, cek uang yang diterima JK untuk dibayarkan kepada para pengisi acara adalah Rp190 juta.
“Cek tersebut diserahkan pada Jumat malam. Karena tidak bisa dicairkan dan besoknya juga tidak bisa karena Sabtu, teman kami yang bernama Rifky memperkenalkan saya dengan seorang temannya dari Tangerang yang bernama Alex,” papar JK.
Singkat cerita, terjadi kesepakatan di antara JK, Andar, dengan Alex. Hari itu, Alex memutuskan untuk memberi uang tunai Rp190 juta kepada JK. Sebagai gantinya, Alex menerima cek dengan nilai yang sama.
“Setelah terima uangnya, saya lepas tangan dengan mereka berdua. Saya harus membayarkan uang itu kepada para pelawak yang mengisi acara,” tambah pria kelahiran 23 Agustus 1967 tersebut.
Beberapa hari kemudian, Alex datang dan menyatakan bahwa cek itu kosong. JK lalu meminta pertanggungjawaban Andar. Andar mengakui kesalahannya tersebut. Dia lalu membayar Rp90 juta kepada Alex.
Sisanya belum dilunasi. Selain itu, Andar sampai saat ini tidak bisa ditemui. “Jadi, kalau saya dilaporkan, saya merasa dirugikan. Nama baik dan kredibilitas saya dijatuhkan,” ujar suami Nurlina itu.   Anda pasti pernah mendengar lagu berjudul Ayat-Ayat Cinta yang dinyanikan Rosa. Lagu ciptaan Melly ini merupakan soundtrack film dengan judul serupa. Film ini adalah drama kisah percintaan. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa.
Ini tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah (Fedi Nuril) adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir.
Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah.
Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu `lurus'. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, Ibunya dan saudara perempuannya. Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah
Tersebutlah Maria Girgis (Carissa Putri). Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja. Lalu ada Nurul (Melanie Putria).
Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.
Setelah itu ada Noura (Zaskia Adya Mecca). Juga tetangga yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya
Terakhir muncullah Aisha (Rianti Cartwright). Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.
Lalu bagaimana bocah desa nan lurus itu menghadapi ini semua? Siapa yang dipilihnya? Bisakah dia menjalani semua dalam jalur Islam yang sangat dia yakini? Saksikan filmnya di Bioskop Makassar.(*)
Jenis Film: drama Pemain: Fedi Nuril, Rianto Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putria, Hj. Mieke Wijaya Sutradara: Hanung Bramantyo Penulis: Salman Aristo/Ginatri Ner/Habiburrachman El Shira Produser: Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi Produksi: MD Pictures.   Gong perebutan kursi presiden ke-45 AS mulai ditabuh, kemarin. Babak penyisihan (kaukus) di Negara Bagian Iowa yang berlangsung Kamis (3 Januari) malam waktu setempat atau Jumat pagi Wita menghasilkan formasi pemenang yang mengejutkan.Senator Illinois Barack Obama memenangi perebutan kandidat presiden dari Partai Demokrat setelah mengalahkan pesaing beratnya, senator New York yang juga mantan ibu negara Hillary Clinton.
Sementara itu, mantan Gubernur Arkansas dan Pendeta Gereja Baptis Mike Huckabee unggul atas mantan Gubernur Massachusetts Mitt Romney di Kaukus Partai Republik. Dari hasil penghitungan perolehan suara final Partai Demokrat kemarin, Barack Obama meraih posisi teratas dengan meraup 37,6 persen suara.
Obama unggul jauh atas kandidat lain Demokrat, yakni mantan Senator North Carolina John Edwards (29,7 persen), serta Hillary Clinton (29,5 persen).
Dari kubu Republik, Mike Huckabbee juga menang meyakinkan dengan meraih 34,3 persen suara, disusul mantan Mitt Romney (25,3 persen) dan mantan Senator Partai Republik dari Tennessee Fred Thompson (13,4 persen).
Meskipun sudah tergambar di polling-polling terakhir, hasil final kaukus Iowa tetap mengejutkan para pemilih AS. Sebab, Iowa dalam sejarahnya dikenal mampu mendongkrak para kandidat presiden AS yang semula tak dikenal menjadi tokoh nasional papan atas.
Sebaliknya, kaukus Iowa dalam sejarahnya juga dikenal mampu melindas impian sejumlah kandidat menuju Gedung Putih.
Kemenangan di babak penyisihan pertama itu akan berdampak pada meningkatnya popularitas dan liputan media. Selanjutnya, hal tersebut juga mendatangkan lebih banyak sumbangan dana kampanye ke kocek kandidat bagi kaukus berikutnya.
Berita terbesar dari hasil kaukus Iowa kemarin adalah terpuruknya perolehan suara Hillary Clinton. Kandidat presiden ini selalu menempati peringkat teratas dalam setiap jajak pendapat sampai beberapa hari sebelum kaukus Iowa dilaksanakan.
Dari faktor pengalaman, perempuan kelahiran 26 Oktober 1947 itu paling mumpuni. Hillary pernah menjadi first lady dan senator selama dua periode. Jadi, untuk masalah pengalaman dan popularitas, Hillary tidak ada masalah.
Namun, hasil penghitungan suara Demokrat di Iowa memupus semua keunggulan kandidat presiden perempuan pertama dalam sejarah AS itu. Tidak hanya kalah oleh rival utamanya –Barrack Obama– Hillary juga terperosok di urutan ketiga.
Dia berada di belakang kandidat lain, yakni mantan kandidat Wakil Presiden John Edwards. Dan suara terbanyak diraih Obama.
Menanggapi kekalahan di ”ronde” pertama menuju kursi presiden AS itu, Hillary berusaha tetap percaya diri dan akan melanjutkan pertarungannya. Di hadapan para pendukungnya di Iowa, Hillary menyampaikan pidato singkat.
“Kami berusaha untuk menjalankan kampanye nasional sekeras mungkin dengan semua cara untuk memimpin,” ujar Hillary yang didampingi suaminya, Bill Clinton, dan anggota keluarganya yang lain. Pernyataan itu disambut yel-yel para pendukungnya.
Manajer kampanye Hillary, Patti Solis Doyle, menambahkan bahwa Hillary tetap berpeluang memenangkan kursi presiden. “Perlombaan baru mulai. Ini kampanye maraton dan kami punya sumber daya untuk melakukan pertarungan nasional dalam beberapa pekan ke depan,” ujarnya.
Sementara Barack Obama bisa bernapas lega setelah berhasil mengungguli dua rival potensialnya; Hillary Rodham Clinton dan John Edwards. Kandidat Capres kulit hitam itu mengatakan bahwa kemenangannya di kaukus Iowa membuktikan bahwa warga negara bagian itu lebih memilih harapan ketimbang ketakutan.
“Mereka mengatakan hari ini tidak akan pernah datang. Mereka mengatakan pandangan kita terlalu tinggi,” kata pria 46 tahun itu saat menyambut pendukungnya di Iowa.
Kemenangan kunci di negara bagian Iowa itu, kata Obama, merupakan kesempatan untuk membuktikan bahwa rakyat AS masih bisa disatukan dalam satu tujuan. Dengan mendukungnya, tegas Obama, maka AS telah memantapkan langkah untuk maju ke era baru.
Di tengah tepuk tangan dan sorak para pendukungnya, Obama juga menegaskan bahwa mereka telah memilih harapan, bukan ketakutan. “Kita memilih persatuan daripada perpecahan dan mengirimkan pesan bahwa perubahan sedang mendatangi Amerika,’’ ujar Obama.
Obama menggeber janji-janji kampanyenya sekuat tenaga dan berusaha meyakinkan bahwa dia adalah orang yang ingin membawa napas segar pada kekuasaan. Pria yang sempat dihujat akibat membanggakan pengalamannya tinggal di Indonesia itu, juga berjanji tidak terlalu terpengaruh kelompok kepentingan dan lobi-lobi gelap.
“Ini saatnya kita mengalahkan politik yang menakut-takuti, meragukan dan sinis. Politik semacam itu malah memecah, bukan mengangkat negara ini. Sekaranglah saatnya,’’ kata dia, meyakinkan.
Kemenangan Obama itu disambut dingin oleh dua orang rivalnya; Senator Joe Biden (Delaware) dan Chris Dodd (Connecticut) yang menduduki peringkat terbawah dalam polling kaukus Iowa.
Keduanya pun langsung mengundurkan diri dari persaingan kandidat capres di tubuh Partai Demokrat. Dalam polling itu, Biden hanya mendapat posisi di tempat kelima diikuti Dodd di posisi enam.   ENAZIR Bhutto adalah perdana menteri perempuan pertama di negara muslim yang baru saja merdeka. Perempuan kelahiran Karachi, 21 Juni 1953 itu, bahkan dua kali menjabat sebagai perdana menteri Pakistan.Pertama kali dia menjabat pada 1988. Namun, hanya bertahan 20 bulan, ia dijatuhkan Ghulam Ishaq Khan dengan tuduhan korupsi. Ghulam sendiri akhirnya menjadi Presiden Pakistan.
Lima tahun kemudian, dia dipilih kembali menjadi perdana menteri. Namun, lagi-lagi, ia hanya bertahan tiga tahun lantaran tuduhan kasus yang sama; korupsi. Pakistan ketika itu dipimpin Presiden Faruq Leghari. Sejak itu, dia mengasingkan diri ke Dubai, sampai akhirnya pulang ke Pakistan pada 18 Oktober lalu.
Kepulangannya bisa terwujud setelah ada kesepakatan dengan Presiden Pervez Musharraf, yang menjamin dia akan mendapatkan amnesti.
Hanya saja, baru saja mendarat di Bandara Internasional Jinnah, dua bom bunuh diri menyambutnya. Beruntung, dia selamat. Dia lolos dari serangan tersebut.
Kendati demikian, 136 pendukungnya tewas dan sedikitnya 450 orang lainnya terluka. Lalu, bagaimana latar belakang pendidikan Bhutto? Benazir Bhutto ternyata adalah wanita yang cerdas. Buktinya, politisi cantik itu lulus dengan predikat cum laude dari jurusan Perbandingan Pemerintahan di Universitas Harvard, Amerika Serikat pada 1973.
Kemudian dia belajar filosofi, hukum internasional, dan diplomasi di Universitas Oxford, Inggris. Dia menjadi perempuan Asia pertama yang terpilih menjadi Ketua Oxford Union, sebuah komunitas debat prestisius di perguruan tinggi tersebut.
Sekembalinya ke Pakistan, dia menikah dengan Asif Ali Zardani, 18 Desember 1987. Mereka dikarunia tiga orang anak, yakni; Bilawal, Bakhtwar, and Aseefa.
Seperti disampaikan sebelumnya, kepulangan Benazir ke Pakistan diawali amnesti yang diberikan Presiden Pakistan Pervez Musharraf pada 5 Oktober lalu. Amnesti itu adalah bagian dari rekonsiliasi nasional. Rekonsiliasi itu diterapkan Musharraf setelah dia terancam gagal dalam pemilu.
Dengan dasar amnesti itulah, Benazir Bhutto pulang ke Pakistan dari pengasingannya di Dubai.
Sebenarnya, sebelum pulang, memang ada ancaman untuk membunuhnya. Karena itulah, 50 pengawal tadi membentuk barikade melindungi Bhutto.
Beberapa hari kemudian, dia lantas menyurati Musharraf dengan menyebut empat orang yang harus bertanggung jawab atas pengeboman tersebut. Keempat nama tersebut adalah orang-orang dekat Musharraf.
Situasi di Pakistan pun memanas sehingga Musharraf menetapkan negara dalam keadaan darurat, 3 November lalu. Bhutto pun merencanakan aksi turun ke jalan menentang kebijakan Musharraf itu.
Pemerintah menghadangnya dengan menetapkan Benazir Bhutto sebagai tahanan rumah. Polisi pun disiagakan di sekitar rumahnya. Bhutto yang mencoba menerobos pun gagal. Keesokan harinya, status tahanan rumah itu pun dicabut. Namun, kalangan oposisi dilarang berbicara di depan umum.
Menghadapi pemilu parlemen Januari 2008, Benazir Bhutto menyerahkan berkas pencalonannya 24 November. Itu dilakukan setelah mantan Perdana Menteri Pakistan yang lain, Nawaz Sharif menyusulnya pulang, setelah delapan tahun mengasingkan diri di Saudi Arabia.
Di awal Desember 2007, Benazir Bhutto bertemu Sharif untuk membahas boikot pemilu. Namun, akhirnya dia menolak. Itu karena ia menilai boikot hanya menguntungkan Musharraf.
Percobaan pembunuhan terhadap Bhutto kembali terjadi pada 8 Desember. Saat itu, tiga lelaki bersenjata menyerang kantor PPP,-- partai pendukung Bhutto-- di Quetta, Provinsi Baluchistan. Benazir Bhutto kembali lolos.
Namun, penyerang Bhutto tidak membuat kesalahan untuk percobaan pembunuhan kali ketiga pada 27 Desember, lalu. Dalam serangan itu, Bhutto dilaporkan terkena tembakan pada leher dan dada saat memasuki mobil untuk meninggalkan arena kampanye.
Penyerang juga meledakkan bom yang menyebabkan puluhan orang tewas. Benazir Bhutto sebenarnya sempat dilarikan ke rumah sakit. Hanya saja, nasib berkata lain. Ia akhirnya meninggal tepat pukul 18.16 waktu setempat (sekitar pukul 20.16 WIB). Selamat jalan Bhutto…   TEWAS. Beberapa warga tewas dan terluka akibat bom bunuh diri yang dilakukan seorang pria yang belum diketahui identasnya. Pelaku bom itu, juga diduga kuat sebagai pembunuh Bhutto. Benazir Bhutto yang menjadi pewaris dinasti politik Bhutto di suatu kegiatan.
Pemimpin oposisi Pakistan Benazir Bhutto diberitakan tewas menyusul luka yang dideritanya akibat serangan bom bunuh diri di Rawalpindi, Pakistan, Kamis (27/12).
Pembom bunuh diri meledakkan bom yang melekat di tubuhnya saat tengah berlangsung kampanye partai pimpinan Bhutto. Namun hingga kini belum dipastikan bagian dari bom yang menewaskan Bhutto. "Bisa jadi butiran besi yang biasa tertanam dalam rompi bunuh diri yang mengenai beliau dan menyebabkan kematian," ungkap juru bicara kementerian dalam negeri Javed Cheema.
Sebelumnya diberitakan Bhutto terluka parah dan dilarikan ke rumah sakit. Demikian penjelasan awal yang diterima dari pihak partai oposisi yang dipimpin Bhutto.
Ancaman Sebelumnya, Bhutto memang tidak mengkhawatirkan ancaman baru yang diterimanya Selasa lalu. Mantan Perdana Menteri Pakistan itu, Rabu (24/10), menyatakan akan tetap mengadakan rangkaian kampanye ke berbagai daerah di Pakistan. Partai Rakyat Pakistan memutuskan akan memakai strategi "menjemput bola", begitu dalihnya.
Lima hari setelah ledakan bom di Karachi, Partai Rakyat Pakistan yang dipimpin Bhutto sempat memutuskan akan menghindari kampanye atau rapat akbar yang dapat menarik massa. Mereka khawatir akan kembali terjadi ledakan bom bunuh diri. Namun, partai telah memutuskan lain.
"Sesuai keputusan dari partai, saya akan berkampanye dalam beberapa hari mendatang. Mulai dari Karachi, Lahore, atau Larkana (daerah kelahiran Bhutto) ke Islamabad. Kami memakai cara 'jemput bola' calon pemilih ke provinsi lain," kata Bhutto.
Keputusan tetap berkampanye keliling Pakistan itu seakan tidak memedulikan ancaman serangan terhadap Bhutto. Surat ancaman berbahasa Urdu itu menyatakan akan membunuh Bhutto 'di mana pun dan kapan pun ada kesempatan'. Surat yang ditandatangani pemimpin serangan ledakan bom bunuh diri dan teman Al Qaeda dan Osama bin Laden. Saat ini ancama tersebut menjadi kenyataan dan Bhutto pun tewas.   KISAH DI BALIK LAYAR AAC I Nov 29, '07 2:39 PM
Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang menyukai film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V, Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno (kalau memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat tokoh bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat kembali dirinya: Kotor atau bersih? Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya . Aku cuma bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ semester Akhir. Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb ... dsb ... Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang agama. Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC). 'Kenapa anda membuat film ini?' Tanyaku 'Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.' 1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar. Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? Kalau cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? Ah, dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak berfikir luas seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi ... diakali. Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset. Wallohu ... Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh ... Alloh ... Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-muridnya. 'Tallaqi' mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar ... Allohu Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu? Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke Kairo. 'Saya akan membuat film ini eksotis, pak' begitu kata saya ke producer. Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya. Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan. Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang bilang : 'Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill Feel, deh'. ada juga yang bilang 'Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.' Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang ... 'Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha' sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu. 'Kami dari organisasi Islam' lanjutnya 'Kami sangat concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.' Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku ... malu sekali. Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain hanya semata-mata ganteng dan 'menjual'. Karena itu kami menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami. Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-pesantren. Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap 'Film' adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita dengan cambuk api. Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas 'Kesucian Fahri'. Banyak diantara mereka beracting 'sok suci' dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma Alloh dengan berlebihan, mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku menemukan seorang yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih Ibu. Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkawinan, tidak bisa dipungkiri 'kedewasaannya' tidak tampak. Alias belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja. Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya ... 'Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam seperti di India.' Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria. Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai ... Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini ... Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai ... Sabar ... Sabar ... Ikhlas ... ikhlas!!! begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan ... cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam ... La haula wa kuwwata illa billahi ...
KISAH DI BALIK LAYAR AAC II Nov 29, '07 2:46 PM
Kairo adalah kota dimana manusia-manusia Fahri, Aisha, Maria, Noura, Nurul, dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling bicara dan saling mencinta. Kairo sangat indah kata kang Abik. Sudut-sudut pasar El Khalili, jalanan di Down Town, Menara-menara masjid termasuk didalamnya Masjid Al Azhar dan University of Azhar Cairo. Sangat detil kang Abik menggambarkan itu dalam novelnya, yang membuat aku tertantang untuk mewujudkan dalam gambar: Bangunan-bangunan tua peninggalan 3 Dinasti (Firaun, kesultanan dan Penjajah Perancis), Kios-kios berdempetan berhadapan dengan trotoar-trotoar sempit yang penuh dengan pejalan kaki, terkadang diisi kursi-kursi rotan café pinggir jalan yang meletakkan seorang tua sedang menyedot shisa. Lalu 5 jam dari tempat itu, menuju matahari terbit, kita melihat kampung tua El Giza dengan aroma kotoran unta yang … hmmm, sekilas menjijikkan, tetapi … tertutup oleh eksotisnya lingkungan khas kairo. Bangunan itu berdiri dari tumpukan bata-bata merah yang dipoles campuran semen dan pasir. Menjadikan warna coklat muda dominan, berpadu selaras dengan warna tanah, warna kain-kain yang dipakai membalut tubuh gadis-gadis kairo, dan warna kulit unta. Bangunan itu ada banyak. Bertebaran. Saling berdiri begitu saja. Tidak begitu rapi seperti bangunan-bangunan kuno di Itali atau paris, tapi sangat menarik bagiku. Apalagi dengan latar belakang sepasang pyramid yang gagah menjulang menyentuh langit. Kairo … ah, Kairo. Di kota ini aku akan meletakkan kamera, melukis dengan cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli. Aku datang bersama tim kecil, menjalin kerjasama dengan local production house, Egypt Production. Mereka sangat senang menyambut kedatangan kami. Kata mereka, tidak mudah membuat film di kairo. Skenario film harus dapat ijin dari sensor film. Tidak seperti di Indonesia. Bisa dengan gampang membuat film apa aja. Karena waktu yang kita punya sangat sempit, ijin yang seharusnya 3 bulan, bisa diurus dalam 2 minggu oleh seorang local producer bernama Tammer Abbas; seorang muslim kairo, cerdas, berpengalaman di bidang film dan kharismatis. Tammer mem-provide apa yang kita butuhkan: Hunting Lokasi, akomodasi dan transportasi hingga penyewaan alat. Di benankku, sedemikian jelas tergambar film ini akan sedetil seperti yang kang abik tuliskan di novel. Setelah riset selesai dan scenario jadi, 20 tim dari Jakarta datang untuk melakukan hunting lokasi sekaligus test kamera. Kami melakukan shooting di sebuah tempat di El Giza. Alat-alat yang di sediakan buat kami jauh lebih bagus dari yang sering kita pakai di Indonesia. Kami sangat di support disana. Kami melakukan persiapan di kairo selama 2 minggu. Tammer akan mensupport semua shooting di Kairo berikut kostum, lokasi, crew dan pemain pendukung. Film ini benar-benar akan menjadi film Indonesia yang shooting total di Luar Negeri. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu … sebuah film agama yang indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang … dan semua umat muslim Indonesia dan dunia tentunya … `Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film. Seakan runtuh bangunan mimpi yang sudah aku bangun. Satu persatu menimpaku. Tapi producerku tidak begitu saja berniat membatalkan produksi film ini. ‘Kita sudah terlanjur berjanji dengan banyak orang.’ Katanya … Bersama-sama kita mulai memikirkan bagaimana AAC bisa diproduksi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kemudian kita mencari sponsor untuk bisa tetap shooting di Kairo. Kita menjalin kerjasama dengan The Embassy of Egypt di Jakarta. Lewat hubungan baik dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, mereka setuju dengan tawaran ini. Kata Dubesnya, Film ini akan dikelola oleh dua Negara: Indonesia dan mesir. Sebelum di putar di bioskop, film ini harus diputar dihadapan presiden Negara-Negara Islam di Asia dan Timur Tengah, begitu kata Dubes. Betapa senangnya aku mendengar kabar ini. Impianku bangkit. Ku kabarkan berita ini ke teman-teman crew dan pemain. Mereka kembali semangat. Akhirnya dibuatkan kesepakatan antara dua Negara melalui Dubes Mesir-DepBudPar-PP Muhammadiyah. Bersama-sama kita melakukan pers conference, mengabarkan berita gembira ini ke masyarakat. Namun lagi-lagi semua itu tidak ada artinya. Pemerintah mesir, sekalipun memberikan dukungan buat kerjasama ini, tidak bisa melakukan intervensi terhadap harga-harga termasuk di dalamnya Equiptment, lokasi, property. Itu adalah hak perusahaan swasta. Artinya, sekalipun di dukung pemerintah, tetap tidak bisa mempengaruhi harga. Harapan shooting di Kairo akhirnya kandas. Terlebih lagi pihak Egypt Production tiba-tiba mengirimkan tagihan atas hunting, pelayanan persiapan dan test kamera selama di kairo sebesar 500 juta rupiah. Angka yang tidak masuk akal buat producer untuk harga test kamera dan hunting. Biasanya di Jakarta kami melakukan hunting sekitar 5 juta sampai 10 juta. Test kamera gratis kita lakukan karena itu salah satu fasilitas perusahaan penyewaan alat. Akhirnya producer tidak mau membayarnya. Terjadilah perselisihan antara keduanya. Pihak Egypt Production melayangkan surat gugatan ke pihak KBRI di Kairo. Pihak KBRI kairo mengirimkan surat ke Departemen Luar Negeri Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang isinya terjadi penipuan pihak MD kepada perusahaan Kairo. Berita ini membuat Deplu dan Depbudpar menarik kembali dukungannya. Begitu juga dengan pihak Dubes Mesir. Seperti sebuah drama tragedy saja, nasib produksi Ayat-Ayat cinta tidak terselamatkan. Terbayang olehku bangunan-bangunan bersejarah, menara-menara masjid Azhar yang tinggi menjulang, kios-kios berjajar, pasar-pasar tradisional, pyramid, guran sahara, pantai Alexandria yang indah … hilang … hilang ditelan angin begitu saja. Lalu pesan ibu terngiang : … Kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film agama … Ana aasif … ya ummi …
KISAH DIBALIK LAYAR AYAT-AYAT CINTA (bag.3) Dec 4, '07 5:26 AM
Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film. Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian hidup kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus kita sikapi sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku sekarang ini seolah tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar biasa lagi. Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku jadi tidak bergairah. Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah beredar. Posisiku sulit. Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD yang berbujet besar drop di pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis, bahkan tidak mampu menembus angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer mulai goyah. ‘Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?’ Kata producer padaku, ‘Iya’ jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan itu sekuat dulu. ‘Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?’ tanyanya kemudian. Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah muslim. Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya … ‘Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa menerima film-film berat.’ Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu pada waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya satu-dua juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika sudah menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi kalau AAC adalah film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau kita di dukung oleh Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia. Sebuah dukungan bisa dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang sudah diproduksi tidak bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban besar. Intinya, dia butuh keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal ditonton lebih dari 1 juta penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan secara bisnis untuk balik modal, mengingat bujet yang dipersiapkan untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet standart Film Indonesia. Yah, sekitar 7 Milyar. Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton? Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang selanjutkan menjadi persoalanku kemudian. Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu juta penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun dirombak total. Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk menggantikan Salman Aristo, karena pada saat itu Nagabonar jadi 2 meraih 1,3 juta penonton. Musfar menolak dengan alasan tidak etis. Salman Aristo kemudian bersedia merubah scenario dengan catatan sedikit keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal ini Kang Abik sedikit kita abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar. Mengingat kang Abik kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk melakukan diskusi scenario harus menghadirkannya dari semarang. Skenario dibuat dalam 2 minggu. Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan menjelang shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah melakukan shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya mundur satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk dengan album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa dan tante Marini sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan Surya Saputra sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur schedule pemain yang akan sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut sudah masuk schedule lain diluar Ayat-Ayat Cinta. Hal itu membuat Iqbal Rais, asistenku kelabakan mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan revisi schedule dan breakdown shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan Ruth Damai Pakpahan (Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby pemain kembali. Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah terlanjur di booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah kontrak. Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah menentukan dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup buat MD. Oh,ya … Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami kendala kreatif adalah producer mulai menekan bujet produksi akibat kerugian di film pertama. Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan dengan asumsi bujet produksi tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan di lapangan tidak semudah asumsi itu. Sesuatu yang diciptakan dengan set akan lebih mahal dibanding kita menggunakan set yang sudah jadi. Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan yang ada di Kairo, perabot didalam rumah itu tidak bisa dipakai. Menjelang shooting aku dan producer banyak bertengkar soal itu. Pengajuan bujet untuk tata artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan lampu. Aku seperti berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu bergerak menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah menghadirkan keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana tertulis di novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat lokasi shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi. Aku dan Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan untuk melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading scenario saja waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali. Hari-hari shooting tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih jauh dari harapanku. Ya Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini … Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap, terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku bingung. Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada awalnya tokoh Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat latihan berlangsung, aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks. Selalu saja ada yang salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting coach (Penata laku) mencoba merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan Carrisa sebagai Maria. Aku melihat ada perubahan ke lebih baik. Mungkin tepatnya: Lebih pas … Tapi aku masih belum yakin dengan itu, dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang menghimpitku. Aku tidak bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta bantuan Salman Aristo untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera, aku, Salman Aristo dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu, karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada saat acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang menjadi Aisha. Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara schedule, Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di deportasi karena masa tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi warag Negara Inggris saat ini), sehingga dia harus kabur ke Singapura beberapa hari sambil mengurus perpanjangan masa tinggalnya di Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan harus mundur lagi. Set yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai berat. Mataku mulai kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi? Berapa tetes lagi air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku rentangkan? Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat pesan ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi … (Lelaki itu harus menyelesaikan segala persoalan). Aku melihat sisi positif dari kemunduran ini. Aku bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu hari tapi setelah itu break seminggu. Pada saat shooting, aku melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku melihat metro yang dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat perpustakaan Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga Jakarta Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja Imanuel Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil meski dengan berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk membangun set dan menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang pribadinya untuk menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang seharusnya di bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property dan membangun set. Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur. Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on schedule. Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo dengan menyewa orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu selesai tengah malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak shooting lagi. Maklumlah, mereka bukan berprofesi sebagai pemain. Kebanyakan dari mereka pedagang, mahasiswa, karyawan bahkan ada yang dokter. Suatu kali pernah si dokter marah-marah karena shooting sampai malam, padahal sebagai dokter dia tidak pernah berpraktek sampai malam. Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC, bahkan untuk mengajak gembel Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya Alloh!! Di Kota lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan lapuk karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang seharusnya diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita menunggu jadwal pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal rais kembali membongkar break down. Hal itu terus menerus mereka lakukan sampai-sampai Amek dan Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer dan pemain. Tidak jarang aku melakukan improvisasi demi efisiensi. Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan dibuang. Tapi aku cukup senang karena aku bisa merobah salah satu sudut kota lama semarang menjadi pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun Binatang Gembiraloka Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh dengan munculnya unta secara tiba-tiba di sana. Shooting paling berat yang aku rasakan pada saat adegan sidang Fahri. Aku memilih gereja Imanuel Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan. Aku menghadirkan lebih dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi satu. Penata kostum, penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain. Ini salah satu scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal yang unik di sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka berada di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk masjid Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi shooting. Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera dan lighting. Aku bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter persegi didalamnya. Aku tertawa kalau memikirkan itu … Tidak terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah, ketika persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan itu bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku bisa lebih dewasa.
Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin ... ( ...Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali. Lindungilah kami atas orang-orang yang membenci kami ...)
Hingga shooting ini selesai, kami masih berhadapan dengan puluhan persoalan lagi. Nantikan di bagian IV (AAC hijrah ke India untuk menghadirkan Sungai Nil, Padang Pasir dan kota) ...
KISAH DI BALIK LAYAR AAC bag. akhir Dec 13, '07 2:51 AM
Shooting di Jakarta sudah selesai. Aku puas dengan kerja tim AAC yang solid. Sekalipun berat, tetap commit untuk menyelesaikan film ini apapun hambatannya. Padahal secara legal, kontrak crew sudah habis 1 bulan sebelumnya. Artinya, mereka bekerja tanpa ikatan kontrak lagi. Ini yang membuat aku terharu atas commitment mereka. Terlebih lagi, banyak diantara mereka non-muslim. Tapi tidak satupun dari mereka yang mengkaitkan keyakinan itu dengan kualitas kerja mereka. Sebagaimana sudah direncanakan sebelumnya, meski Allan bisa menyulap Semarang dan Jakarta jadi kairo. Secara geografis, tidak akan tergambar jika tidak ada shooting di Kairo. Awalnya producer sudah puas dengan hasil shooting di Indonesia tanpa perlu shooting di Kairo. Saya sangat keberatan. Sebenarnya, dari hasil sisa adegan yang belum diambil, hanya membutuhkan waktu 5 hari saja shooting di kairo. Akhirnya producer mengerti dan menjalin hubungan dengan local production lain di kairo. Local producer itu sering menangani film-film asing yang shooting di Cairo. Sebuah perusahaan yang juga berpengalaman d bidang produksi film. Setelah melihat konsep film AAC, dia menawarkan harga untuk shooting disana selama 5 hari. Jumlah yang diajukan sebesar 3 Milyar untuk shooting 5 hari. Nilai yang bahkan di Indonesia bisa membuat satu film. ‘Angka yang tidak masuk akal’ kata producerku. Aku sepakat dengan producerku, meski aku tahu konsekwensi membuat film sesuai dengan novel Kang Abik memang berbujet besar. Tapi aku tetap tidak percaya degan penawaran itu. Setelah kita cek quote yang diajukan, aku melihat item-item yang tidak rasional. Misalnya, makan per orang dia budjet kan 100 US$ sehari. Padahal pada saat riset di sana, aku bisa makan dengan 25 ribu sehari. Bujet penawaran itu tidak bisa ditawar kecuali kita mengurangi jumlah hari dan kru. Negosiasi tertutup. Kemudian muncul gagasan shooting di India dari salah seorang staf perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa menyediakan lokasi yang kita butuhkan mirip Cairo. Semula aku ragu, tapi setelah ditunjukkan foto-foto lokasi di India, saya jadi yakin. Dalam foto itu tergambat Sungai Nil, sudut kota kairo, Taman Al azhar University, Padang Pasir lengkap dengan unta-unta dan kafilah. Hanya pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu bisa dibuat di studio menggunakan Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih dikenal dengan special effect. Disaat persiapan menuju India, tercetus ide untuk tetap bisa shooting di Kairo dengan dibarengi workshop film buat mahasiswa Indonesia-Al Azhar. Lalu aku menghubungi PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhammadiyah). Mereka setuju dengan ideku. Kita bahkan dibantu KBRI. Di Kairo, aku dan PCIM berencana menggelar workshop dengan peserta anggota PCIM (mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sekolah di Azhar Univ yang menjadi anggota Muhammadiyah) dan akan Shooting mengambil suasana kota dengan kamera kecil bersama dengan mahasiswa peserta workshop tersebut. Biasanya, kegiatan yang mengatasnamakan mahasiswa tidak perlu ijin berbelit-belit. Maka segala sesuatu dipersiapkan. Dari Jakarta, tim yang berangkat ke India 20 orang termasuk pemain, tetapi 6 diantaranya berangkat duluan ke Kairo selama 4 hari. 6 orang tersebut adalah, Fedi Nuril, Faozan Rizal (Kamera), Kasnan (Asisten Kamera), seorang pengawal alat, Adi molana (tata suara) dan aku. Producer setuju dengan rencana tersebut. Tapi ditengah persiapan itu, muncul kendala di pengurusan Visa. Karena hari shooting di India dan Kairo berurutan, membuat pengurusan visa tarik-tarikan antara keduanya. Waktu kita hanya 1 minggu sebelum keberangkatan shooting, sementara mengurus Visa di India membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari karena jumlah orang yang akan berangkat banyak. Begitupun mengurus Visa Kairo. Akhirnya aku minta tolong pihak PCIM dengan bantuan KBRI menguruskan visa on arrival. KBRI setuju dan sudah menghubungi pihak emigrasi cairo bahwa akan datang tim dari Indonesia berjumlah 6 orang untuk workshop. Kamipun senang dengan kabar tersebut. Terbayang eksotisnya kota kairo, kios-kiosnya, menara-menara masjid yang menjulang, jalan raya yang macet, kampung- el giza. Bahkan pihak KBRI bisa menyediakan fasilitas khusus masuk kawasan pyramid dengan bebas. Rasa optimisku bangkit lagi. Akhirnya … aku bisa shooting di Kairo … Tapi, lagi-lagi semua itu cuma mimpi. Sesampainya di bagian Check In Bandara Sukarno-Hatta, aku dan 5 kru lainnya tidak boleh berangkat. Waktu itu kami berencana terbang ke Kairo dengan Sinagpore Airlines (SQ). Pihak SQ tidak bisa memberangkatkan kami dengan alasan tidak ada visa. Aku menjelaskan, bahwa kita dapat fasilitas Visa on Arrival dari KBRI Cairo. Mereka minta bukti tertulis dari pihak KBRI sebagai pegangan. Aku tunjukkan undangan dari PCIM untuk workshop atas nama Muhammadiyah ke pihak SQ. Mereka tidak mau terima. Yang mereka minta adalah surat tertulis yang menjamin 6 orang yang diterbangkan SQ bisa diterima di Kairo. Itu tanggungjawab Airlines atas keselamatan penumpang. Aku segera telpon pihak PCIM untuk menghubungi KBRI. Ternyata hari itu kantor KBRI libur. Sekalipun bisa terhubung secara pribadi dengan bagian konsulat KBRI, tapi untuk urusan administrasi harus melalui kantor. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat. Kamera yang sudah kita sewa, tiket yang sudah kita beli dan segala harapan untuk bisa shooting di Kairo buyar … Dada ini terasa sakit sekali. Dalam perjalanan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, tanpa sadar, air mataku meleleh lagi. Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik? Tidak ada harapan lagi kecuali shooting ke India saja. Untuk saat ini, sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa. Pesawat Malaysia Airlines take off dari Jakarta membawa 20 Kru dan pemain AAC beserta dua kopor berisi Kostum pemain, 3 kopor berisi property keperluan Artistik dan dua kopor lain berisi bahan baku film 35mm serta kabel-kabel. Kira-kira 8 jam perjalanan, kami mendarat di Banglore untuk transit. Saat itu malam hari. Udara agak dingin. Pesawat yang membawa kita ke Bombay baru besok pagi sekitar jam 10 take off dari bandara. Menurut travel agent di Jakarta, di Banglore kita disediakan penginapan. Tetapi kenyataannya bukan penginapan sebagaimana layaknya sebuah hotel transit di bandara international. Kita disediakan satu apartement dengan 6 kamar. Padahal kami berjumlah 20 orang dimana tidak semuanya laki-laki. Kopor kami juga banyak. Tidak layak buat kami untuk menempati satu apartement. Malam itu sudah jam 12 malam. Pihak administrasi apartement sudah tutup untuk meminta tambahan satu apartement lagi. Kami kebingungan sendiri. Setelah beberapa lama terkatung-katung, salah seorang pembantu apartement lain menawari bisa memakai apartementnya kalau cuma buat semalam, karena pemiliknya sedang keluar kota. Akhirnya kami patungan menyewanya. Apartement itu untuk crew dan pemain perempuan. Aku bersama crew laki-laki lainnya saling tumpang tindih di apartement satunya. Aku dan Rajish (Make up artist) tidur di sofa depan. Faozan Rizal dan tim kamera tumpuk-tumpukan satu kamar. Fedi, Oka dan Iqbal tidur satu ranjang bertiga. Lainnya tidur sekenanya. Tepat jam 11 siang kami meninggalkan Banglore menuju Bombay. Kami sudah dijemput sebuah bis yang akan membawa kami 15 jam menuju Jodhpur. Bayangan kami, Jodhpur adalah kota kecil yang tidak ada bandaranya disana. Tapi ternyata Jodhpur adalah kota wisata. Banyak turis eropa-Amerika datang kesana menggunakan pesawat, apalagi di bulan-bulan November. Bandaranya-pun lebih bagus dari Halim Perdanakusuma. Jadi penggunaan bis semata-mata buat ngirit bujet produksi, mengingat harga tiket Bombay-Jodhpur di bulan-bulan libur naik. Kami cuma menghela nafas. 15 jam perjalanan, bayangan kami, seperti perjalanan Jakarta Surabaya. Tidak apalah, aku bisa istirahat di bis, pikirku. Setelah keluar dari bandara Bombay dengan tumpukan kopor-kopor, kami melihat bis yang disediakan kami kecil. Warnanya kuning. Bis tersebut bukan selayaknya kendaraan tempuh Jakarta-Surabaya. Bis itu seperti bis Jakarta-Sukabumi yang diberi AC. Tempat duduknya sempit hanya memuat 20 orang saja. Sedangkan kopor-kopor kami banyak. Aku komplain dengan orang india (staff MD) yang mengurusi kami disana. Dia bilang, bis ini disediakan berdasarkan bujet dari producer. Kami tetap tidak mau naik. Aku melihat wajah teman-teman kusut. Tika (line producer AAC) marah dan meminta local unit menyediakan tiket pesawat. Sayangnya, tiket pesawat ke jodhpur habis sampai 3 hari kedepan. Setelah berdebat lama, akhirnya kami disediakan satu mobil kijang khusus untuk kopor-kopor. Allan menyertai kopor-kopor itu di mobil Kijang. Yang lainnya naik bis. Fedi yang berkaki panjang menduduki bagian belakang tepat di selasar tengah bis diapit Rianti, Prita (Pencatat Script), dan Clarissa. Ditengah diisi Oka, Pao, Tarmiji, Kasnan (tim kamera), Adi molana dan pak Rajish. Di depan ada Aku, Retno Damayanti (kostum), mbak Tia (asisten Retno) dan Tika. Seorang supir bernama Ganesh membawa kami membelah negeri India melintasi Gujarat. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan terbayang … Perjalanan Bombay-Jodhpur mirip seperti perjalanan Jakarta-Surabaya. Padang Ilalang terbentang di kiri kanan. Rumah-rumah gubuk, warung-warung tempat mangkal bis dan Container berderetan sepanjang jalan seperti di film Iran Café Transit, jajaran rumah-rumah pedesaan diselingi pohon-pohon besar dan sawah-sawah tandus berseliweran. Pemandangan luar biasa buatku. Eksotis. Bis kami melaju bersama dengan puluhan bahkan ratusan truk-truk. Kadang bis kami berhenti sekedar minum teh hangat India yang dicampur susu bersama sopir-sopir berkulit hitam. Di perbatasan Gujarat. Kami mendapat persoalan. Bis kami dilarang melintasi perbatasan karena dokumen tidak lengkap. Selama 2 jam kami dicuekin, sementara Ganesh mondar-mandir dari post satu ke post lainnya yang jaraknya 1 km untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat dia begitu stress, dia meminjam Hp Tika untuk menghubungi seseorang. Terlihat dari cara bicaranya, Ganesh sedang bertengkar. Mungkin orang itu yang menyebabkan Ganesh mendapat persoalan. Kami nyaris balik ke Bombay karena tidak ada ijin melintas. Ditengah situasi panik itu Rianti, Clarrisa, Oka dan Fedi didatangi militer bersenapan karena mereka foto-foto. ‘Ini bukan tempat wisata!’ kata Militer itu. Terlihat wajah Rianti pucat karena takut. Akhirnya Ganesh menjelaskan ketidaktahuan kami. Merekapun mengerti. Setelah 2 jam lewat dengan perasaan tidak menentu, kami bisa melintasi perbatasan, melanjutkan perjalanan atas perjuangan Ganesh. Malam yang panjang terasa. Sekalipun sulit buat kami tidur di tempat sempit seperti itu, kami tidak bisa melewatkan rasa ngantuk. Pagi berikutnya kami berhenti di sebuah kota kecil. Kami menyewa losmen kecil buat mandi dan sarapan. Kami istirahat selama 4 jam memberikan kesempatan Ganesh tidur. Di tempat itu kami diliatin penduduk sekitar. Apalagi Rianti dan Clarissa. Orang-orang India memiliki keramahan berbeda dengan Indonesia. Apalagi bukan di kota besar seperti Bombay, Delhi atau Madrass. Suara mereka yang keras membuat kami mengira mereka marah. Tetapi sebenarnya tidak. Di tempat itu kami baru sadar bahwa kami sudah menempuh 15 jam perjalanan. Tetapi kami masih berada setengah perjalanan menuju Jodhpur. Setelah membuka peta baru kami sadar berapa jarak sebenarnya dan berapa waktu tempuh sebenarnya antara Bombay-Jodhpur. Bombay-Jodhpur berjarak 850km, Kira-kira 24 jam waktu perjalanan darat jika ditempuh secara non-stop. Kami merasa ditipu. Fedi yang biasanya diam, kini marah-marah, dia protes ke producer atas perlakuan ini. Jawab producerku, pihak MD tidak tahu menau soal ini. Mereka juga minta maaf. Pak Rajish, salah satu karyawan MD dari India bagian make up artis banyak membantu kami. Setidaknya membantu kami berkomunikasi. Ternyata, dibalik semua itu ada yang tidak jujur, memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan. Aku marah, tetapi aku tahu itu tidak ada gunanya. Akibat dari kesalahpahaman ini kami kehilangan waktu dan tenaga yang seharusnya bisa dimanfaatkan buat Shooting. Kami cuma bisa pasrah … Jam 8 malam, tepat 30 jam perjalanan dari Bombay, kami masuk Hotel. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa merebahkan diri di tempat yang layak. Diatas tempat tidur aku melepaskan pikiran. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku membayangkan melintasi negeri Gujarat naik bis. Tanpa asuransi, tanpa perlindungan apapun. Untung tidak ada teroris menghadang kami. Sungguh, aku sudah tidak kuat. Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada jaminan apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh, gajiku tidak sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang mengira aku melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi, orang itu benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat di film ini. Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa. Lagi-lagi dadaku sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku, anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik. 'Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.' Kata ibuku yang terus menerus terngiang. Pagi harinya aku mulai shooting. Dan persoalan seperti tidak selesai. Dari mulai peralatan yang kami pakai sudah ditinggalkan industri India 5 tahun yang lalu alias butut: Lampu-lampu yang fliker (menghasilkan cahaya kelap-kelip seperti neon yang habis watt nya), Kamera tua yang ketika dipakai mengeluarkan bunyi berisik, generator kami yang lebih layak dipakai buat menyalakan mesin pemarut kelapa dibanding buat shooting. Lalu kru-kru India yang disediakan untuk membantu kami bukan kru profesional. Di bagian akomodasi makanan kami selalu datang telat sehingga banyak yang protes. Tidak hanya kru Jakarta saja yang protes, kru India juga begitu. Suatu kali pernah mereka mogok kerja tidak shooting karena hanya di kasih makan sekali sehari. Padahal shooting sampai jam 12 malam. Di lokasi gurun, kami harus mendaki gunung pasir dengan jalan kaki sebelum menuju lokasi utama. Kami menggunakan Unta buat mengangkat Kamera dan perlengkapannya. Kaki-kaki kami sakit tertusuk tanaman duri. Bibir kami banyak yang pecah karena panas matahari. Sebelum mencapai tempat lokasi, kami istirahat mirip kafilah-kafilah yang kehausan ditengah sahara. Tapi dari semua kesulitan itu, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Lokasi yang aku dapatkan luar biasa. Kecuali lokasi Gurun, lokasi Nil, Taman, Rumah Sakit berada di satu hotel peninggalan Kasultanan Pakistan. Lokasi gurun Pasir kami tempuh 4 jam perjalanan dari Jodhpur. Melelahkan tapi juga menyenangkan. 3 hari kami melakukan shooting dan 2 hari sisanya adalah perjalanan. Di hari ketiga, rombongan kembali ke Jakarta. Aku bersama 20 cann film hasil shooting di Jodhpur terbang menuju Madras untuk editing dan processing lab. Sastha Sunu, editor Ayat-Ayat Cinta sudah menungguku disana. Sampai tulisan ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat Cinta yang semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga mengakibatkan jadwal Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari. Aku tidak berani menjelaskan kerumitan itu, karena sifatnya technical sekali. Pendeknya, produksi Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh dengan cobaan dibandingkan 6 filmku sebelumnya.
Semoga Cobaan ini membuktikan Cinta Alloh masih bersama Kami semua …
 Hasil Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNCCC) yang dirangkum dalam Peta Jalan Bali (Bali Roadmap) tidak memuaskan kalangan aktivis lingkungan. Penempatan target spesifik penurunan emisi dalam catatan kaki pembukaan, dinilai meremehkan kajian ilmiah ahli iklim untuk melayani kepentingan Amerika Serikat (AS).Direktur Eksekutif Greenpeace International Gerd Leipold menyatakan, Greenpeace yang hampir 15 tahun mengawasi proses negosiasi antarpemerintah untuk melawan perubahan iklim kecewa atas hasil konferensi di Bali.
“Hasil konferensi yang tidak mencantumkan target spesifik pengurangan emisi telah mengecilkan kerja keras ilmuwan dan harapan umat manusia,” ujarnya dalam pernyataan yang dirilis kemarin.
Lebih lanjut, Leipold menuding delegasi AS yang dikirim pemerintahan Presiden Bush sebagai biang keladi tumpulnya kesepakatan konferensi. “Sejak awal, Presiden George W. Bush punya rencana buruk di Bali. Karena itu, pemerintah-pemerintah di dunia harus menentukan nasib mereka sendiri dari bencana yang diciptakan Bush,” ujarnya.
Seperti diberitakan, pembahasan kesepakatan akhir di Bali berlangsung alot akibat sikap AS yang didukung Kanada dan Jepang. Mereka menolak target pengurangan emisi bagi negara-negara maju 25-40 persen dari angka pada 1990 yang harus terealisasi tahun 2020.
Hingga menjelang akhir perundingan Sabtu, 15 Desember, ketiga negara industri itu menyetujui kesepakatan untuk menurunkan emisi. Tapi, mereka tetap menolak mencantumkan angka secara tegas.
Alotnya perundingan tersebut menyebabkan jadwal konferensi terpaksa diperpanjang sehari. Kompromi yang dicapai hanya mencantumkan target spesifik tersebut sebagai catatan kaki pada pengantar.
Ailun Yang, eksekutif Greenpeace dari Tiongkok, menambahkan bahwa strategi kotor Bush yang menentang semua bahasan, terutama terkait dengan aturan mengikat soal emisi, membuat jutaan umat manusia menderita akibat perubahan cuaca.
“Pemerintah AS tanpa ragu menyalahkan lemahnya kesepakatan itu kepada negara-negara berkembang. Namun, dunia mengerti apa yang sebenarnya, Amerika-lah yang berperan di Bali,” tuding Ailun.
Meskipun kecewa dengan ditendangnya kesepakatan pengurangan emisi secara spesifik, Greenpeace tetap menyambut baik perjanjian akhir yang mencantumkan suatu mandat untuk merundingkan tahap berikut yang lebih mantap dari Protokol Kyoto untuk tahun 2009.
Mandat itu berisi pendanaan dan penyaluran teknologi bersih bagi negara-negara berkembang serta pembiayaan untuk membantu para korban perubahan iklim. Kiprah delegasi AS di konferensi iklim di Bali juga disorot di dalam negeri.
Kandidat presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton menyebutkan, delegasi yang dikirim pemerintahan George W. Bush ke UNCCC di Bali telah mempermalukan AS. Dalam konferensi 12 hari itu, Bush ingin menghambat kemajuan pembicaraan di UNCCC, namun akhirnya gagal juga.
“Pemerintahan Bush sekali lagi berusaha menghalangi kemajuan, namun akhirnya tak bisa menahan tekanan konsensus politik dan ilmiah untuk beraksi terhadap perubahan iklim,” kata Hillary.
Istri mantan Presiden AS Bill Clinton itu menambahkan, jika dirinya yang duduk di kursi presiden, proses pembicaraan di UNCCC akan jauh lebih maju. Hillary pun berjanji akan membuat sebuah perjanjian pasca Kyoto jika nanti terpilih sebagai presiden.
“Saya segera memimpin proses membuat sebuah perjanjian baru untuk menggantikan Protokol Kyoto. Pemerintahan saya akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin seluruh dunia setiap 3 bulan jika dibutuhkan untuk membuat sebuah perjanjian baru,” janji Hillary. Serangan bom bunuh diri kembali melanda Pakistan, Jumat, 21 Desember.Insiden ini terjadi di dalam sebuah masjid di Pakistan bagian Utara, ketika jemaah sedang melaksanakan salat Iduladha. Diperkirakan 50 orang tewas dan 80 lainnya terluka. Diduga, serangan ini adalah usaha pembunuhan terhadap mantan menteri dalam negeri Pakistan, Aftab Khan Sherpao
“Sebenarnya, target serangan tersebut adalah Aftab Sherpao,” tutur juru bicara Sherpao, Salim Shah pada AFP. Dia menambahkan, Sherpao dan keluarganya selamat dari insiden tersebut.
Dalam interview melalui telepon, Sherpao mengatakan, para pelaku bom bunuh diri itu meledakkan diri tepat di belakang dia dan keluarganya. Saat itu mereka sedang salat Iduladha bersama jemaah yang lain. Dia mengaku tidak mengenali identitas pelaku maupun kelompok penyerangnya.
Menurut keterangan pihak kepolisian setempat, korban yang tewas maupun yang terluka telah dibawa ke rumah sakit terdekat.
Delapan bulan lalu, Sherpao telah menerima serangan serupa saat dia sedang mengadakan rapat di kota. Serangan tersebut menewaskan 28 orang. Dia hampir saja terluka akibat ledakan tersebut.
Aftab Khan Sherpao adalah mantan menteri dalam negeri Pakistan yang juga pemimpin Partai Rakyat Pakistan. Dipastikan dia akan turut mencalonkan diri pada pemilu Januari 2008 nanti. Keputusan kontroversial majelis hakim Mahkamah Agung (MA) yang diketuai Paulus Effendi Lotulung dalam sengketa Pilgub Sulsel, ternyata mendapat perhatian serius dari anggota Komisi Yudisial (KY) Republik Indonesia.Hanya saja, Komisi Yudisial secara kelembagaan belum membicarakannya karena kebetulan bertepatan dengan hari libur nasional.
Namun, peluang untuk memeriksa lima hakim yang menangani sengketa Pilgub Sulsel ini, sangat terbuka lebar. Langkah itu, bisa dilakukan KY jika ada pengaduan dari masyarakat.
“Kalau memang ada pengaduan dari masyarakat, kita segera periksa hakimnya,” tegas Wakil Ketua Komisi Yudisial, M Tahir Saimima kepada Fajar, Jumat, 21 Desember.
Kendati demikian, secara pribadi, Tahir menyarankan KPU Sulsel terlebih dahulu untuk melakukan upaya hukum luar biasa melalui peninjauan kembali (PK). Tujuannya, untuk menguji putusan MA tersebut.
Terlepas dari KY secara kelembagaan, Tahir menilai bahwa wewenang untuk mengadili sengketa pilkada provinsi memang ada di tangan MA. “Hasil keputusan MA memang final dan mengikat, kecuali ada upaya hukum yang luar biasa.
Seperti dalam kasus sengketa Pilkada Depok,” tandasnya merujuk pada Pilkada yang dimenangkan Nur Mahmudi Ismail melalui PK itu.
Ia menambahkan, dalam UU Pemilu dan UU No.32/2004 tentang pemerintahan daerah, pilkada ulang dapat dilakukan apabila terjadi bencana atau kejadian luar biasa yang mengakibatkan perhitungan suara tidak akurat.
Tapi, kata Tahir lagi, majelis hakim MA yang menangani kasus Pilgub Sulsel ini, bisa menafsirkannya secara luas. “Mungkin MA memperluas penafsiran,” katanya, berasumsi.
Untuk itu, kata dia, seandainya pihak yang kalah menganggap keputusan tersebut tidak benar, maka bisa mengajukan PK. “Dari segi teknis peradilan, KY tidak boleh campur,” jelasnya.
Tahir juga menegaskan bahwa ketika lembaganya turun tangan, maka sebelumnya harus dilakukan pleno KY. Namun, sekali lagi, ia meyakinkan bahwa pihaknya siap memeriksa Paulus Cs jika memang ada pengaduan dari masyarakat.
Lalu, betulkah KY bisa memeriksa Paulus Cs? Pengamat hukum Unhas, Dr Aswanto mengatakan, KY memang punya wewenang memeriksa seluruh hakim, termasuk hakim agung. Aswanto menilai, KY memiliki fungsi pengawasan terhadap lembaga peradilan.
Kewenangan tersebut tertuang dalam UU Nomor 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Pada Pasal 13 disebutkan, KY mempunyai wewenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim.
Aswanto menambahkan, putusan MA terhadap kasus sengketa Pilkada antara tim Asmara dengan KPUD Sulsel, memang menuai kontroversi. Putusan tersebut dinilai aneh karena dalam UU Nomor 32 tahun 2004, tidak ada aturan yang membolehkan Pilkada ulang.
“Maka wajar jika KY berniat menelusuri kasus ini. Saya sudah menyarankan kepada KPUD Sulsel agar melaporkan hal ini kepada KY,” tandas Aswanto.
Hanya saja, lanjutnya, kewenangan KY sekarang sudah terbatas. Jika dulu, KY punya wewenang untuk melakukan teguran terhadap hakim nakal, kini tidak bisa lagi. KY hanya bisa menyampaikan rekomendasi ke MA untuk pengambilan keputusan.
Hal itu juga dibenarkan pakar hukum tata negara Unhas, Dr Mas Bakar yang dihubungi terpisah. Menurutnya, sebagian fungsi pengawasan KY telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), pada 19 September 2006 lalu melalui putusan Nomor 005/PUU-IV/2006. Dukung KPU Sulsel
Secara terpisah, Gubernur Sulsel terpilih, Syahrul Yasin Limpo yang ditemui di kediamannya di Bumi Permata Hijau (BPH) menyatakan siap mem-back up KPU Sulsel dalam melakukan PK. Menurutnya, keputusan MA itu tidak dapat diterima akal sehat.
“Kita tetap mendorong KPU Sulsel untuk melakukan upaya PK. Upaya hukum itu dimungkinkan karena ada hal-hal signifikan yang melanggar aturan dan undang-undang yang ada,” jelas Syahrul.
Syahrul mengaku, keputusan MA itu tidak mengalahkan Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu'mang (Sayang), tetapi justru memperkuat. Alasannya, karena gugatan primer Amin Syam-Mansyur Ramly (Asmara) ditolak, berarti keputusan KPU Sulsel tentang kemenangan Sayang tetap dianggap sah.
“Untuk itu, prosesnya harus tetap lanjut. Tetap jalan saja seperti biasa. Intinya, PK harus tetap dilakukan, karena pemilihan ulang di empat kabupaten itu tak pernah terjadi di dunia,” sindirnya.
Hal itu, lanjut Syahrul, bukannya mencari kebenaran, namun justru menjustifikasi kepentingan orang tertentu. Makanya, dia menegaskan keputusan itu harus ditolak.
“Meski begitu, saya tetap mengimbau pendukung saya jangan berbuat anarkis dan melakukan tindak kekerasan dalam setiap aksinya menolak keputusan MA itu,” katanya.
Syahrul juga sempat mempertanyakan dasar hukum pengulangan pilkada itu. Menurut dia, tidak ada undang-undang yang mengatur tentang pilkada ulang. “Pasal berapa yang mengatur tentang pengulangan itu.
Lagipula, saya sudah tanya KPU Sulsel, apakah pernah menambah suara saya atau tidak. Jawabannya tidak. Nah, tentu saja putusan MA aneh,” pungkasnya Kebutuhan listrik di Sulawesi setiap tahun meningkat hingga 200 Mega Watt (MW). Idealnya, peningkatan kebutuhan tahunan tersebut diikuti penambahan daya listrik minimal 200 MW.Hal itu dikemukakan General Manager Pembangkitan dan Jaringan (Pikitring) PT PLN (Persero) Wilayah Sulawesi, Maluku, Papua (Sulmapa) Achmad Siang, awal pekan ini. Ia mengatakan, dengan peningkatan kebutuhan tahunan tersebut, maka untuk interkoneksi sampai 2015 mencapai 3.000 MW.
Mengenai program pengadaan daya 10 ribu MW, PLN Sulmapa, mendapat jatah sekitar 318 MW yang akan dikembangkan di delapan lokasi. Yakni, 4 di wilayah Sulawesi, 4 di wilayah Maluku dan Papua.
Menurut Ahmad Siang, depalan proyek tersebut, terdiri dari, 2X50 MW di Barru, 2X15 MW di Kendari, dan 2X25 MW masing-masing di Gorontalo dan Manado. Sedangkan empat proyek di wilayah timur, yakni; 2X7 MW di Ternate, 2X15 MW di Ambon, 2X7 MW di Timika, dan terakhir 2X15 MW di Jayapura. Proyek-proyek tersebut diharapkan rampung secara bertahap, antara 2009 hingga awal 2010.
"Secara bertahap manajemen PLN melakukan perekrutan untuk mengakselerasi kelancaran proyek 10 ribu MW, mulai dari tenaga baru, mutasi, dan tenaga outsources," jelasnya. Pengembangan proyek pembangkit ini, lanjutnya, juga membutuhkan komunikasi dan koordinasi untuk mengoptimalisasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada.
Hal senada diungkapkan Deputy Direktur Pengembangan Eksekutif PT PLN Assistia Semiawan, saat menghadiri pelantikan dan serah terima jabatan di lingkungan Sulmapa. Menurut dia, untuk menunjang program proyek 10 ribu MW, awal tahun 2008 akan ada pemisahan gaji peringkat dengan gaji jabatan sebagai reward pegawai yang bekerja keras dalam akselerasi proyek.
Sementara, kemampuan daya listrik wilayah Sulselbar sendiri yang dibackup Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru, Pinrang dan Tello dengan daya mencapai 470 MW. Angka tersebut dinilai masih riskan. Karena itu, proyek PLTU Punagaya di Jeneponto dengan daya 2X125 MW dan biaya sebesar Rp2,7 triliun yang diperkirakan rampung awal 2010 mendatang diharapkan mampu menutupi.
Selain itu, kesanggupan PLN hanya sekitar 2.000 MW di Sulawesi, selebihnya diserahkan ke pihak swasta untuk pengembangan Meski puncak musim hujan terbesar baru terjadi pada awal Januari hingga akhir Februari 2008, namun hujan deras yang telah mengguyur wilayah Makassar kurun tiga hari terakhir ini, merupakan bagian puncak musim hujan yang terjadi bulan Desember.Hal tersebut diutarakan Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa Badan Meteorologi Geofisika (BMG) Wilayah IV Makassar, Hanafi Hamzah, dalam konfirmasinya pagi ini. "Akhir Desember memang saat-saat memasuki puncak hujan deras terbesar di awal Januari. Makanya tidak mengherankan, jika tiga hari terakhir ini, hujan deras sudah mulai turun," katanya.
Berdasarkan data Balai Wilayah IV BMG kota Makassar, kata Hanafi, jumlah curah hujan terbesar pada bulan Desember, telah terjadi pada Rabu, 19 Desember lalu. "Rabu itu merupakan puncak curah hujan terbesar di bulan ini sampai mencapai 117 milimeter. Sementara, Kamis kemarin, hanya 54 milimeter," jelasnya.
Selama bulan Desember, tambahnya, perhitungan rata-rata jumlah curah hujan per hari 50 hingga 150 milimeter.
Menurut Hanafi, selama bulan Desember, hanya ada satu hari puncak curah hujan terbesar."Karena itu telah lewat, jadi kami prediksikan hingga akhir Desember, curah hujan makin kecil antara 20 hingga 50 milimeter saja," paparnya.
Sementara, untuk akumulasi curah hujan selama Desember 2007, antara 550-600 milimeter.
Termasuk Hari Natal dan malam Tahun Baru nanti, Hanafi memprediksi hujan akan turun. "Namun tidak sebesar malam menjelang lebaran kemarin," katanya.
Untuk awal Januari hingga akhir Februari 2008, Hanafi memprediksi curah hujan di wilayah Makassar bakal lebih besar. "Curah hujan dalam sehari tetap berkisar 50 hingga 150 milimeter, hanya saja akan terjadi dua hingga kali puncak terbesar, " jelasnya.
Sedangkan akumulasi curah hujan selama Januari, diprediksi mencapai 750 milimeter. Melihat potensi curah hujan yang besar di bulan Januari, Hanafi mengatakan kondisi tersebut juga potensial menimbulkan banjir. "Khususnya pada wilayah berdataran rendah.
Selain mendapatkan curah hujan pada wilayah sendiri, juga mendapat akumulasi lebih tinggi dari wilayah sekitarnya, "tuntasnya. SESUDAH hari Idul adha kemarin, hari ini hingga dua hari lagi esoknya disebut sebagai hari-hari tasyrik. Dalam tiga hari tasyrik, penyembelihan hewan sebagai rangkaian Iduladha masih dilakukan. Hal ini mengandung satu makna agar pembagian hewan kurban kepada yang berhak menerimanya masih dapat dilakukan secara lebih merata.Khusus bagi kita umat Islam Indonesia, kata kurban dan pengorbanan (korban) sungguh mempunyai jalinan arti. Penyembelihan hewan kurban adalah simbolisasi dari kerelaan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, berkorban demi kepatuhannya kepada Allah. Kepatuhan itu tidak lain adalah manifestasi cinta mereka berdua kepada Tuhan yang telah memberinya kehidupan. Itu sebabnya, Ibrahim dijuluki Allah sebagai kekasihNya, khalilullah.
Perintah menyembelih putra sendiri, yang demikian lama dinantikan kehadirannya dengan penuh harap, setelah lahir dan besar menjadi remaja yang membahagiakan hati orang tuanya, tiba-tiba diminta untuk disembelih. Sebuah ujian tak terperi. Sebuah tuntutan pengorbanan yang tiada tara, yang tak mungkin ada manusia lain bisa menunjukkan kepatuhan seperti itu.
Tapi momentum bersejarah itu diabadikan oleh Tuhan untuk menjadi acuan dan teladan untuk manusia sesudahnya. Hidup dengan iman adalah hidup dalam kepatuhan kepada yang memberi kehidupan, Tuhan yang Maha Hidup. Kepatuhan adalah ketaatan, dan ketaatan adalah langkah-langkah untuk selalu dekat (kurban) dengan-Nya. Bagi ego atau nafsu manusia, hal itu adalah berat sehingga memerlukan perjuangan. Sementara perjuangan memerlukan pengorbanan. Di sinilah kita melihat hubungan makna kurban dan pengorbanan itu.
Hubungan makna itulah yang perlu terus diaktualisasikan, yaitu kesedian berkorban, berbagi, mewujudkan kepedulian terhadap sesama, sebagai bentuk pendekatan diri kepadaNya. Momentumnya adalah Iduladha dan ritual yang menjadi simbolnya adalah penyembelihan hewan kurban untuk dibagikan dagingnya kepada mereka yang lapar, yang kekurangan gizi, yang jarang menikmati makanan enak dalam hari-hari hidupnya Juara bertahan Liga Champion, AC Milan akan melawan pemimpin klasemen sementara Liga Inggris, Arsenal di putaran kedua Liga Champion dan Inter Milan akan berhadapan dengan Liverpool. Demikian hasil undian yang dilaksanakan di Nyon, Swiss, beberapa waktu lalu. Sembilan juara lainnya yaitu Real Madrid akan bertemu AS Roma, sedangkan juara Liga Inggris, musim lalu, Manchester United (MU) dan berhadapan dengan pemegang gelar juara Liga Perancis, Lyon.
FC Barcelona melawan Celtic, Chelsea vs. Olympiakos; Schalke vs. FC Porto; dan Fenerbahce vs. Sevilla."Milan melawan Inggris," demikian ujar Direktur AC Milan, Umberto Gandini.
"Ini sebuah hasil yang baik. Memang agak sulit menghadapinya tapi kami akan bermain dengan baik dan kami akan memegang kendali juara Eropa dan kami terus berjuang," katanya, lagi.
Ini merupakan hasil yang mengejutkan tim-tim yang bermain di Liga Champion, tahun demi tahun. Milan dan Arsenal hanya bertemu di dua leg di Piala Super 1995. Tim ini bermain Highbury dengan hasil seri namun saat bermain di kandang Milan, San Siro, Arsenal kalah 2-0.
Arsenal vs. AC Milan AS Roma vs. Real Madrid Celtic vs. Barcelona Fenerbahce vs. Sevilla Liverpool vs. Inter Milan Lyon vs. Man Utd Olympiakos vs. Chelsea Schalke vs. FC Porto
KHUSYUK. Hujan deras yang mengguyur Makassar dan sekitarnya kemarin, tak menyurutkan semangat umat Islam untuk melaksanakan salat Id. Semua tempat salat Id, terlihat dipadati jemaah. Bahkan, ada di antara mereka yang tetap terlihat khusyuk melaksanakan salat, kendati diguyur hujan deras.
 Film Ayat - Ayat yang diambil dari novel berbahasa Indonesia karangan Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2004 melalui penerbit Basmala dan Republika, Ayat-Ayat Cinta.. Novel ini berisikan 418 halaman dan sukses menjadi salah satu novel fiksi best seller di Indonesia yang dicetak sampai dengan 160 ribu eksemplar hanya dalam jangka waktu tiga tahun. Ayat-Ayat Cinta juga merupakan pelopor karya sastra islami yang sedang dalam masa kebangkitannya dewasa ini. Untuk versi film disutradarai oleh Hanung Bramantyo yang merupakan film ketujuhnya setelah 'Get Married' dan ' Ledhek', dibintangi Fedi Nuril, Rianto Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putria, Hj. Mieke Wijaya brkisah tentang seorang pemuda Indonesia bernama Fahri bin Abdullah Shiddiq (Fedi Nuril) yang telah tujuh tahun menempuh pendidikan di Universitas Al Ahzar di Kairo, Mesir. Ia memiliki kehidupan yang nyaris sempurna, tanpa cacat sedikitpun. Semua berawal saat kisah cinta segitiga hadir diantara Fahri dengan seorang gadis Amerika yang tertarik dengan agama Islam dan seorang gadis Jerman Palestina Turki bernama Aisha (Rianti Cartwright). Gak lengkap kalo film di buat disini tanpa ada soundtracknya, ternyata untuk pertama giliran Rossa yang lagi pusing dirudung masa keluarga ini menyanyikan lagu soundtrack film ini, padahal dibeberapa blog banyak banget yang mengharapkan SIti Nurhaliza menjadi penyanyi soundtrack lagu utama film ini. Film Ayat-ayat Cinta yang akan dirilis untuk Idul Adha, Natal dan Tahun baru ini diharapkan menjadi film alternative di tengah bombardir Horor dan roman cinta remaja. Film ini meminjam kalimat sang sutradara diharap akan menjadi citra muslim di Indonesia bahkan Internasional. Bahwa Islam adalah agama penuh cinta kasih. Penuh perenungan atas ketidaksempurnaan manusia-manusia muslim didalamnya. Bukan justru sebaliknya, radikal, terlalu meyakini atas kebenaran, dan tidak toleran.   Petunjuk “melihat” gambar dibawah:
Kalau mata kita mengikuti gerakan putaran bulatan warna pink, hanya akan terlihat satu warna, pink. Kalau pandangan mata ke tanda “+” hitam di tengah, makan bulatan yang berputar berubah warnanya ke hijau… Sekarang, konsentrasi ke tanda “+” hitam di tengah-tengah gambar. Dalam waktu yang singkat, pelahan-lahan bulatan pink akan menghilang, dan hanya akan terlihat satu bulatan hijau yang berputar.
Sangat mengagumkan cara otak kita bekerja. Sebenarnya tidak ada bulatan hijau, dan bulatan pink sebenarnya juga tidak menghilang. Rasanya cukup membuktikan bahwa kita tidak selalu melihat apa yang kita pikir kita melihatnya –> dengan kata lain, kita “melihat” bukan apa adanya, tapi “sebagaimana kita melihat” sesuatu…
Kadang kita merasa menghadapi suatu masalah yang “sangat sulit” atau “sangat berat” (baik di tempat kerja, di keluarga, di lingkungan masyarakat,maupun masalah pribadi diri sendiri), bahkan kadang bisa terlintas di benak kita, kenapa demikian berat beban masalah/cobaan yang kita terima ? (padahal kalau kita menerima anugrah/hadiah/ kenikmaran yang demikian besar, kita tidak pernah mempertanyakan nya, kenapa kok saya yang menerima). Dan kadang kita lupa dg doa : berilah beban yang aku sanggup memikul nya….
Berat - ringan, kecil - besar, masalah - bukan masalah, sedih-gembira, hukuman-pahala, derita/nestapa- bahagia.. ..dst. bukankah hanya cara pandang kita tentang “sesuatu” ?
Perihal, peristiwa, kejadian tetap sama, namun dengan sudut pandang yang berbeda (kita coba geser cara pandang) dan me-makna-i nya dengan cara yang berbeda, maka hasil nya juga akan berbeda. Semua hanya ada di benak kita sendiri !
Otak kita lah yang membuatnya berbeda ! Peristiwa bisa sama, namun kalau kita memaknai/memandang nya sebagai hal yang positif, bermanfaat, mengambil pelajaran, maka hasil nya akan demikian. Dan tentu sebaliknya.. .
Terlampir meneruskan kiriman dari seorang rekan yang membuktikan bahwa “cara kerja” otak kita ternyata “melihat” sesuatu bukan apa ada- nya, tapi sebagaimana kita melihat nya. Teringat salah satu ungkapan dari seorang sahabat (dalam bahasa Jawa) :”Sing ora ono iku sejatinya ono, sing ono iku sejati-ne dudu…” (yang tidak ada/nampak itu sejatinya ada, yang ada/tampak itu sejatinya bukan…”.
Sekedar renungan untuk kehidupan…. . Semoga ada manfaat nya.   Pemanasan global merupakan sesuatu yang tak terbantahkan lagi dan dapat menimbulkan dampak sangat mengerikan. Demikian salah satu pernyataan dalam laporan terakhir Panel PBB untuk Perubahan Iklim atau United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang diumumkan di Valencia, Sabtu (19/11).
Sekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon menantang pemerintah negara-negara di seluruh dunia untuk melakukan aksi nyata mengatasi ancaman tersebut. Ia mengajak para pengambil kebijakan untuk merespon temuan ini dalam konferensi perubahan iklim di Bali yang akan digelar awal Desember 2007.
"Sangat mendesak, usaha global harus dilakukan," ujar Ban Ki-Moon, Sekretaris Jendral PBB. Ia berharap para pengambil kebijakan dari seluruh dunia dapat merespon temuan ini dalam konferensi perubahan iklim yang akan digelar di Bali mulai 3 Desember 2007.
Mengerikan
Laporan tersebut menyebut manusia sebagai biang utama pemanasan global. Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir.
Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961.
Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 2,7 derajat Fahrenheit (setara 1,5 derajat Celcius). Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah.
Meski negara-negara miskin yang akan merasakan dampak sangat buruk, perubahan iklim juga melanda negara maju. Pada 2020, 75 juta hingga 250 juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber air, penduduk kota-kota besar di Asia akan berisiko terlanda banjir dan rob. Di Eropa, kepuanahan spesies akan ekstensif. sementara di Amerika Utara, gelombang panas makin lama dan menyengat sehingga perebutan sumber air akan semakin tinggi.
Kondisi cuaca ektrim akan menjadi peristiwa rutin. Badai tropis akan lebih sering terjadi dan semakin besar intensitasnya. Gelombang panas dan hujan lebat akan melanda area yang lebih luas. Risiko terjadinya kebakaran hutan dan penyebaran penyakit meningkat.
Sementara itu, kekeringan akan menurunkan produktivitas lahan dan kualitas air. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih luas, mengasinkan air tawar, dan menggerus kawasan pesisir.   Ada Tato Tulisan Arab di Tubuhnya
SEORANG bayi di Pulau Pannikian, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, lahir dengan tato tulisan Arab di beberapa bagian tubuhnya. Yang lebih aneh lagi, Musfira, sang ibu, mengaku melahirkan “bayi ajaib” itu tanpa pernah berhubungan badan. Lho! WARGA Pulau Pannikian, Kecamatan Balusu, Barru tiba-tiba heboh. Musababnya, seorang bayi yang lahir 25 November lalu di pulau itu dianggap ajaib. Selain karena di tubuhnya terdapat sejumlah tato tulisan Arab, sang bayi juga disebut-sebut lahir tanpa ayah.
Bukan karena akibat “kecelakaan”, tapi sang ibu, Musfira berdalih dirinya tidak pernah tersentuh oleh lelaki. Tapi kok bisa hamil? Musfira tak menjelaskan lebih jauh atas “keajaiban” yang menimpa dirinya. Ia juga tak merinci bagaimana proses kehamilannya, termasuk saat-saat mengidam.
Yang pasti, Kepala Kecamatan Balusu, Sukardi kepada Fajar, Minggu, 2 Desember, kemarin juga ikut terheran-heran atas keanehan yang menimpa salah seorang warganya itu. Sukardi lebih heran lagi tatkala melihat langsung bayi yang diberi nama Muhammad Ali itu.
Sukardi menyebut, di tubuh bayi itu ada tulisan alif di bagian dahi, lafal Muhammad di telapak tangan dan di pundak kanannya tertulis Jibril, serta Mikail di pundak kiri. Juga di telapak kaki kanannya tertulis Israil dan di kaki kirinya Israfil.
Sementara di lengan kanannya tertulis Muhammad Ali. Semuanya dengan aksara Arab. Karena itu pula ibu sang bayi memberi nama anaknya Muhammad Ali. “Saya coba raba-raba bagian tulisan tersebut, tapi tampak seperti asli, warnanya seperti tato,” kata Sukardi.
Pada awalnya, Juddin saudara Musfira sempat ngotot memaksa ibu korban mengakui siapa laki-laki yang menghamilinya. Tapi Musfira tetap bertahan menyatakan bahwa dirinya tidak pernah disentuh laki-laki. Bahkan ia menyebut bayi tersebut hanya “dititipi” dalam perutnya.
Bukti lain yang ditunjukkan keluarga Musfira, setelah melahirkan, Musfira bermimpi dirinya diminta menyimpan kamera di dekat tempat tidur bayi. Perintah mimpi itupun ia lakukan. Anehnya, kamera itu sempat menghilang tapi belakangan muncul lagi. Lebih aneh lagi dari isi kamera itu setelah dicetak ada gambar perempuan berpakaian putih dan berambut panjang.
Ada pula seorang laki-laki berpakaian jubah putih. “Pengakuan Musfira, mereka yang ada dalam foto itu adalah orangtua bayi yang dilahirkannya,” terang Juddin. (*) Sumber : Harian Fajar ( 03- Desember - 2007 
| |