
| |
AYAT-AYAT cinta adalah sebuah novel 411 halaman yang ditulis oleh seorang novelis muda Indonesia kelahiran 30 September 1976 yang bernama Habiburrahman El-Shirazy. Ia adalah seorang sarjana lulusan Mesir dan sekarang sudah kembali ke tanah air. Sepintas lalu, novel ini seperti novel-novel Islami kebanyakan yang mencoba menebarkan dakwah melalui sebuah karya seni, namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata novel ini merupakan gabungan dari novel Islami, budaya dan juga novel cinta yang banyak disukai anak muda. Dengan kata lain, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam, khususnya buat para kawula muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa. Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang berbeda latar belakang dan budaya; yang satu adalah mahasiswa Indonesia yang sedang studi Universitas Al-Azhar Mesir, dan yang satunya lagi adalah mahasiswi asal Jerman yang kebetulan juga sedang studi di Mesir. Kisah percintaan ini berawal ketika mereka secara tak sengaja bertemu dalam sebuah perdebatan sengit dalam sebuah metro (sejenis bus) Mein Neim Ist Aisha Pada waktu itu, si pemuda yang bernama lengkap Fahri bin Abdullah Shiddiq, sedang dalam perjalanan menuju Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-Kaima, ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara face to face pada seorang syaikh) pada Syaikh Utsman Abdul Fattah, seorang Syaikh yang cukup tersohor di seantero Mesir. Kepadanya Fahri belajar tentang qiraah Sab'ah (membaca Al-Qur'an dengan riwayat tujuh imam) dan ushul tafsir (ilmu tafsir paling pokok). Hal ini sudah biasa dilakukannya setiap dua kali seminggu, setiap hari Ahad/Minggu dan Rabu. Dia sama sekali tidak pernah melewatkannya walau suhu udara panas menyengat dan badai debu sekalipun. Karena baginya itu merupakan suatu kewajiban karena tidak semua orang bisa belajar pada Syaikh Utsman yang sangat selektif dalam memilih murid dan dia termasuk salah seorang yang beruntung. Di dalam metro, Fahri tidak mendapatkan tempat untuk duduk, mau tidak mau dia harus berdiri sambil menunggu ada kursi yang kosong. Kemudian ia berkenalan dengan seorang pemuda mesir bernama Ashraf yang juga seorang Muslim. Merteka bewrcerita tentang banyak hal, termasuk tentang kebencian Ashraf kepada Amerika. Tak berapa lama kemudian, ada tiga orang bule yang berkewarganegaraan Amerika (dua perempuan dan satu laki-laki) naik ke dalam metro. Satu diantara dua perempuan itu adalah seorang nenek yang kelihatannya sudah sangat lelah. Biasanya orang Mesir akan memberikan tempat duduknya apabila ada wanita yang tidak mendapatkan tempat duduk, namun kali ini tidak. Mungkin karena kebencian mereka yang teramat sangat kepada Amerika. Sampai pada suatu saat, ketika si nenek hendak duduk menggelosor di lantai, ada seorang perempuan bercadar putih bersih yang sebelumnya dipersilahkan Fahri untuk duduk di bangku kosong yang sebenarnya bisa didudukinya, memberikan kursinya untuk nenek tersebut dan meminta maaf atas pwerlakuan orang-orang Mesir lainnya. Disinilah awal perdebatan itu terjadi. Orang-orang Mesir yang kebetulan mengerti bahasa Inggris merasa tersinggung dengan ucapan si gadis bercadar. Mereka mengeluarkan berbagai umpatan dan makian kepada sang gadis, dan ia pun hanya bisa menangis. Kemudian Fahri berusaha untuk meredakn perdebatan itu dengan menyuruh mereka membaca shalawat Nabi karena biasannya dengan shalawat Nabi, orang Mesir akan luluh kemarahannya dan ternyata berhasil. Lalu ia mencoba menjelaskan pada mereka bahwa yang dilakukan perempuan bercadar itu benar, dan umpatan-umpatan itu tidak layak untuk dilontarkan. Namun apa yang terjadi, orang-orang Mesir itu kembali mrah dan meminta Fahri untuk tidak ikut campur dan jangan sok alim karena juz Amma saja belumtentu ia hafal. Kemudian emosi mereka mereda ketika Ashraf yang juga ikut memaki perempuan bercadar itu, mengatakan bahwa Fahri adalah mahasiswa Al-Azhar dan hafal Al-Qur'an dan juga murid dari Syaikh Utsman yang terkenal itu. Lantas orang-orang Mesir itu meminta maaf pada fahri. Fahri kemudian menjelaskan bahwasanya mereka tidak seharusnya bertindak seperti itu karena ajaran Baginda Nabi tidak seperti itu. Lalu ia pun menjelaskan bagaimana seharusnya bersikap kepada tamu apalagi orang asing sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Mereka pun mengucapkan terima kasih pada fahri karena sudah megingatkan mereka. Sementara itu, si bule perempuan muda, Alicia, sedang mendengarkan penjelasan tentang apa yang terjadi dari si perempuan bercadar dengan bahasa Inggris yang fasih.Kemudian Alicia berterima kasih dan menyerahkan kartu namanya pada Fahri. Tak berapa lama kemudian metro berhenti dan perempuan bercadar itupun bersiap untuk turun. Sebelum turun ia mengucapkan terima kasih pada Fahri karena sudah menolongnya tadi. Akhirnya mereka pun berkenalan. Dan ternyata si gadis itu bukanlah orang Mesir melainkan gadis asal Jerman yang sedang studi di Mesir. Ia bernama Aisha. Penasaran? Saksikan filmnya di Bioskop-bioskop
Bismillahirrahmaanirrahiim Berikut adalah jadual 'Puasa Sunnah' sesuai penanggalan Masehi. Tahun 2008. -------------------------------------------------------------------------------- 1. Puasa tiap hari Senin dan Kamis.
2. Puasa 3 (tiga) hari setiap bulan - 'shaumul biidh' - Yakni pada tanggal 13.14.15 - penanggalan Islam - (saat bulan purnama). - 22, 23, 24 Januari 2008 / Muharram 1429 H - 20, 21, 22 Februari 2008 / Shafar 1429 H - 21, 22, 23 Maret 2008/ Rabi'ul Awwal 1429 H - 20, 21, 22 April 2008/ Rabi'ul Akhir 1429 H - 19, 20, 21 Mei 2008/ Jumadil Awwal 1429 H - 17, 18, 19 Juni 2008/ Jumadil Akhir 1429 H - 16, 17, 18 Juli 2008/ Rajab 1429 H - 15, 16, 17 Agustus 2008/ Sya'ban 1429 H
Puasa Ramadhan 1429 H : 1 September 2008 - 30 September 2008.
- 13, 14, 15 Oktober 2008/ Syawwal 1429 H - 11, 12, 13 November 2008/ Dzulqa'idah 1429 H - 12, 13 Desember 2008/Dzulhijjah 1429H. 11 Desember 2008 bertepatan dengan hari tasyriq - 13 Dzulhijjah 1429 H. Hari tasyriq tidak diperkenankan berpuasa.
3. Puasa 1/3 (sepertiga) bulan - Yakni di bulan Dzulhijjah. Antara 11 Desember 2007 - 9 Januari 2008 / Dzulhijjah 1428 H Antara 29 November 2008 - 28 Desember 2008/ Dzulhijjah 1429 H Puasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan haji. Yakni : 7 Desember 2008/ 9 Dzulhijjah 1429 H
Tidak diperkenankan berpuasa : Hari Idul Adha - 10 Dzulhijjah/ 8 Desember 2008 Hari tasyriq - 11, 12, 13 Dzulhijjah/ 9, 10, 11 Desember 2008/ Dzulhijjah 1429 H
4. Puasa bulan Muharram - 'Asyura' selama 3 (tiga) hari - tanggal 9,10,11 Muharram. Sangat dianjurkan tanggal 9 dan 10 ( Tasu'a dan 'Asyura ) Yakni : 18, 19, dan 20 Januari 2008/ Muharram 1429 H.
5. Puasa pada sebagian bulan Sya'ban. Antara 3 Agustus - 31 Agustus 2008.
6. Puasa 6 hari pada bulan Syawwal. Antara 2 Oktober - 29 Oktober 2008. Tidak diperkenankan puasa pada 1 Syawwal - 1 Oktober 2008.
7. Puasa Daud - berpuasa berselang-seling. Berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.
Ringkasan - Referensi : Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq Tamamul Minnah, Muhammad Nashiruddin al-Albani Al-Islam- Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia Penanggalan Tahun 2008 - Penerbit Gema Insani.
PROSES Pilkada (Pemilihan Langsung Kepala Daerah), baik lingkup provinsi, maupun kabupaten/kota, berpotensi mengubah wajah peradaban masyarakat. Bukan saja wajah kultural, melainkan aspek keberagamaan masyarakat akan dipengaruhi oleh kuatnya kepentingan politik praktis dalam Pilkada.Oleh karena itu, kebertahanan budaya dan agama perlu dimiliki masyarakat Sulsel. Ada "bahaya laten" yang berpotensi dibawa oleh proses Pilkada. Ancaman itu berupa makin tingginya individualitas masyarakat tradisional, menularnya "virus" materialistik, terjadinya konflik horizontal, pemisahan kultur berdasarkan geopolitik, dll.
Namun, jika proses Pilkada dikelola dengan baik, dampak positifnya juga banyak, seperti makin tingginya loyalitas terhadap kultur, revitalisasi nilai-nilai budaya (kebajikan dan kebijakan tradisional berpeluang diangkat ke permukaan dan ditularkan ke generasi), serta kesempatan bagi masyarakat tradisi untuk memberi kekuatan pada kulturnya ketika melakukan "tawar-menawar" terhadap figur untuk dipilih. Baik terhadap penguatan nilai, maupun fasilitas berupa ruang, tempat, kesempatan, dan fasilitas pertumbuhan kultur lainnya.
Kehidupan beragama pun seperti itu. Para ulama harusnya konsisten memanfaatkan momentum ini untuk medakwahkan nilai-nilai kebenaran agama masing-masing dalam memilih pemimpin. Mendidik masyarakat untuk konsisten pada keyakinan agamanya.
Kekuatan agama dan budaya mesti berada di atas proses Pilkada. Bukan malah sebaliknya, berada di bawah tekanan kepentingan-kepentingan praktis Pilkada. Kepentingan Pilkada harus berada pada pencapaian kepentingan universal yang "ber-sharing" dengan tujuan agama dan budaya tersebut.
Kultur atau kebudayaan pada pembahasan ini mengandung keseluruhan pengertian terhadap nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur dan pranata sosial (termasuk hukum), religius, dan lain-lain. Melville J. Herskovits memasukkan kekuasaan politik sebagai bagian penting sebuah kebudayaan . Lebih jauh Andreas Eppink menerangkan bahwa kebudayaan itu meliputi aspek intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Dalam tataran ini, aspek sejarah menempati posisi penting. Kita yakin terhadap keluhuran sejarah. Nilai kebajikan dan kebijakan yang ada di dalamnya adalah tugas kita untuk mempelajarinya. Tentu saja belajar dari sejarah untuk menyempurnakan kehidupan seraya tidak mengulang kesalahan yang lalu-lalu.
Proses Pilkada di Sulsel, baik ketika benar Pilkada provinsi akan diulang di empat kabupaten (Bantaeng, Gowa, Bone,dan Toraja), maupun pada Pilkada kabupaten/kota nantinya, merupakan kesempatan besar untuk tidak saja belajar, tetapi menerapkan nilai keluhuran sejarah tersebut. Lantas sejarah apa yang harus dipelajari?
Sulsel punya kearifan (kebajikan dan kebijakan) sejarah yang telah membudaya. Nilai-nilai budaya itu telah dipelajari. Nilai-nilai budaya itu dihapal mati sebagian besar "orang pintar". Ada nilai "sipakatau" (saling memanusiakan), "lempu" (kejujuran), saling menjaga "siri" (harga diri), dll. Seperti juga agama. Nilai-nilai kebenaran universal, nilai-nilai Ilahiah , bahkan ayat-ayat agama telah dihapal luar-kepala oleh kaum intelektual.
Namun, konsistensi untuk "belajar" menerapkan keluhuran sejarah (budaya) dan nilai-nilai agama tersebut jangan sampai menempati urutan di bawah kepentingan praktis Pilkada.
Jika kondisi ini dibiarkan berlalu, maka rumusan kebudayaan Andreas Eppink tentang dimensi intelektualitas, benar adanya. Dan, inilah yang paling berbahaya jika dilakukan secara sadar "memanfaatkan" intelektualitas kita untuk "memperdayai" agama dan budaya demi kepentingan praktis untuk kemenangan oknum Pilkada. Inilah "bahaya laten" Pilkada tersebut.
Janganlah secara intelek memanfaatkan slogan budaya hanya semata-mata untuk "memperdayai" komunitas adat yang demikian bersahaja itu. Janganlah instrumen-instrumen kultural itu hanya untuk pemanis memasuki ruang-ruang tradisi. Setelah itu, mereka dicampakkan.
Jangan pula "ayat-ayat" itu hanya semata-mata menjadi kunci untuk membuka pintu hati umat. Toh, agama dan kebudayaan berikut pelbagai ritual di dalamnya dilakukan untuk mencapai keseimbangan hidup, baik di dunia maupun di alam sesudah kehidupan ini. Para aktor intelektual Pilkada-lah yang paling berpeluang mengamalkan keluhuran budaya dan agama tersebut. Mungkin juga kita.
Bagaimanapun, masyarakat bukanlah kerbau liar yang dicocok hidungnya untuk masuk TPS-TPS (Tempat Pemungutan Suara)seraya menunjukkan, "Inilah yang benar menurut agama dan budayamu!"
When you're down and troubled and you need a helping hand and nothing, whoa nothing is going right. Close your eyes and think of me and soon I will be there to brighten up even your darkest nights. You just call out my name, and you know wherever I am I'll come running, oh yeah baby to see you again. Winter, spring, summer, or fall, all you have to do is call and I'll be there, yeah, yeah, yeah. You've got a friend. If the sky above you should turn dark and full of clouds and that old north wind should begin to blow Keep your head together and call my name out loud and soon I will be knocking upon your door. You just call out my name and you know wherever I am I'll come running to see you again. Winter, spring, summer or fall all you got to do is call and I'll be there, yeah, yeah, yeah. Hey, ain't it good to know that you've got a friend? People can be so cold. They'll hurt you and desert you. Well they'll take your soul if you let them. Oh yeah, but don't you let them. You just call out my name and you know wherever I am I'll come running to see you again. Oh babe, don't you know that, Winter spring summer or fall, Hey now, all you've got to do is call. Lord, I'll be there, yes I will. You've got a friend. You've got a friend. Ain't it good to know you've got a friend. Ain't it good to know you've got a friend. You've got a friend.
….begitulah hidup, tak pernah ad yg benar-benar terpegang. semuanya berlalu seperti angin, dan kadang kita pun ikut menjadi angin. hingga sia2 jika kita berusaha menangkap masa lalu. begitulah hidup, kita bergerak dari satu kehilangan ke kehilangan yg lain. dari satu ketidakpastian, ke ketidakpastian yg lain… entah skenario hidup macam apa yg tengah kujalani.. hari ini tanpa diduga aku ikut menguburkan seseorang.. seseorang yg tak pernah aku temui, tak kukenali wajahnya, yg ku tau hanya namany.. aku ikut berdoa saat semua pelayat memanjatkan doa.. mudah2an Tuhan mengampuni dosany.. meski tak kuketahui seperti apa perangainya ketika hidup di dunia yg fana ini. kerabatnya menangis, keluarganya juga, dan beberapa teman yg mengantarkan ke peristirahatan terakhir.. alangkah bahagianya jasad itu, ditangisi banyak org.. andai saja dia tahu.. sampai detik ini aku tidak tau, apakah ak harus bersedih atau bergembira atas kepergianny… adakah orang yg akan bersedih dan menangisiku jika aku mati? ah, pertanyaan ini selalu saja menggangguku.. “but i won’t cry for yesterday, there’s an ordinary world, somehow i have to find, and as i try to make my way, to the ordinary world, i will learn to survive,” maafkan aku hatiku… sepertinya kamu akan kecewa lagi.. aku tak punya keberanian saat ini untuk memenuhi permintaanmu.. maafkan aku.. bukankah kamu telah sering kecewa.. anggap saja ini kekecewaan yang kesekian kaliny.. maafkan
Kala nurani terbebani oleh kesalahan pribadi, Khan nampak kelahiran rahasia pribadi, Terdiam, sunyi, dalam relung terdalam sanubari Diam tak beranjak, penuh kekhwatiran akan terkuaknya rahasia pribadi Tanpa transparansi, sebuah rahasia pribadi bertransformasi menjadi ketakutan akan jati diri Lambat laun menjadi ketakutan pribadi, ketertutupan, dan kemayaan sebuah pribadi Beban yang selalu menghantui langkah kehidupan pribadi. Ketika selimut kesabaran akan rahasia pribadi tak terlakoni Kekecewaan nurani yang tersakiti khan mengumbar rahasia pribadi Tanpa rasa risi, penuh iri hati dan dengki Menelanjangi sebuah rahasia pribadi penuh nafsu ragawi, sebatas kepuasaan inderawi yang tak berarti sama sekali Merusak harmonisasi hubungan antar pribadi yang didasari ketulusan hati Please, sesama insani, tolong hargai dan hormati rahasia pribadi Karena rahasia pribadi sedalam rasa bersalah dan dosa insani Sesama insan tak berhak menghakimi sebuah rahasia pribadi Berusahalah memahami harga diri kerahasiaan pribadi Ku hargai setiap rahasia pribadi, bentuk konsekuensi logis apresiasi transparansi pribadi Rahasia pribadi…sungguh manusiawi…patut diharga
Apakah kematian itu akan datang? Siapa yang tidak akan didatangi oleh kematian? Alam kubur? Apakah aku akan selamat dalam ujian itu ? Sungguh,.. ajal akan menjemput semua makluk hidup, sunguh,..saat itu akan datang sebagaimana telah sering aku saksikan ia mendatangi orang lain, teman-temanku, tetanggaku, bahkan orang tua atau kerabatku. Dan aku pasti tidak dapat mengetahuai kapan ia akan menjemputku sebagaimana orang lain tidak menduga saat ia datang. Sungguh dia akan menjemput aku pergi ke tempat yang tak mampu aku bayangkan,.. Tempat yang tidak pernah kembali lagi,. mereka yang pergi ke sana, Tak ada alasan bagi ku untuk tidak percaya hal itu bakal terjadi, sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk mengingkari adanya Al Khaliq. Itu akan terjadi dan pasti akan terjadi sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk memungkiri adanya getaran kegelisahan dalam bathinku tatkala aku melakukan perbuatan yang fitrahku mengenalnya sebagai dosa. Hanya saja. Sanggupkah aku menghadapi ujian dan pertanyaan yang akan diajukan kepadaku ? bagaimana aku harus bersikap Saat aku didudukkan di lubang yang gelap, kemudian datanglah kepada ku dua malaikat mengajukan pertanyaan: Siapa Rabb-mu, apa agamamu, dan siapa nabimu ? Sanggupkah aku menjawabnya ? … Apa yang akan aku katakan,.. Bagaimana aku menjawab ketika ditanya tentang siapa Rabb-ku ? Cukupkah kujawab : Rabb-ku adalah ALLAH ? Semudah itukah menghadapi fitnah qubur ? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanamkan dalam jiwaku keyakinan akan adanya Engkau, tertanam pula keyakinan ,bahwa tidaklah segala sesuatu itu ada dan terjadi dengan sendirinya serta tanpa maksud dan tujuan. Lantas bolehkah terlintas dalam benakku : “Mustahil aku akan tersesat dan terjatuh ke dalam kekufuran.” ? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Keberhasilan yang aku peroleh adalah semata-mata hasil prestasiku.” ? Bolehkah aku beranggapan : “Bahwa tanda keridhoan-Mu adalah dengan terjadinya apa yang terjadi atau berlakunya apa yang hendak aku lakukan.” ? Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah kejamnya Engkau, membiarkan seorang bayi lahir dalam keadaan cacat. Alangkah tak adilnya Engkau, membiarkan pelaku ma’shiyat sejahtera bermandikan kesenangan, sedangkan mereka yang tha’at dalam keadaan miskin berlumurkan kesengsaraan.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun, mengapa sering bathin ini protes manakala aku tertimpa musibah atau doaku tak kunjung terkabul? Ya, ALLAH. Ternyata tak ada jalan untuk mengenal Mu kecuali melalui diri-Mu. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam dalam batinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan kekuasaan-Mu, bertentangan dengan hak-Mu untuk diibadahi, serta bertentangan dengan kemuliaan nama-nama dan sifat-sifat-Mu. Maka, sudahkah aku mengenal segala kekuasan-Mu dan mengakui keesaan-Mu dalam hal mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta ini? Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang apa agamaku? Cukupkah kujawab: Agamaku Islam? Semudah itukah menghadapi fitnah qubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam di dalam jiwaku keyakinan akan kesempurnaan agama ini, tertanam pula keyakinan bahwa agama ini disampaikan kepada manusia agar mereka memperoleh kemudahan dan kebahagiaan hidup di dunia - sebelum di akhirat kelak tentunya-. Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: ”Agama ini tidak realistis, kurang membumi.” ? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Jaman sekarang ini jangankan mencari yang halal, mencari yang haram saja susah.”? Bolehkah aku beranggapan: “Semua agama itu baik.” ? Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah enaknya menjadi orang-orang kafir di muka bumi ini, alangkah kunonya agama ini, dan alangkah sempit serta terbatasnya ruang ibadah yang tersedia di sana.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes manakala terasa dunia dan segala suguhannya tak memihak kepada ku? Mengapa bathin ini diam saja dan tak sedikitpun tergerak untuk membenci mereka yang menghujat agama ini? Ya, ALLAH. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan agama yang mulia ini. Bahkan boleh jadi aku tak mengenal agama ini sebagaimana ia diperkenalkan oleh pembawanya. Boleh jadi aku tak mengenal keseluruhan aturan yang ada di dalam nya. Dan boleh jadi aku telah terjatuh ke dalam perbuatan yang telah mengeluarkan aku dari nya. Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang siapa nabiku? Cukupkah kujawab: Nabiku Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ? Semudah itukah fitnah qubur ? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam keyakinan dalam bathinku tentang kemuliaan akhlaqnya, sifat amanahnya, dan kejujurannya, tertanam pula keyakinan bahwa dialah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam teladan terbaik bagi umat manusia. Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Ada jalan untuk mendekatkan diri kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala selain dari yang telah dicontohkan oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam” ? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Memelihara jenggot itu jorok, menjilat-jilati jari sehabis makan itu juga jorok, dan poligami itu jahat.” ? Bolehkah aku beranggapan: “Mengikuti Sunnahnya itu tidak wajib.” ? Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lupa menyampaikan ini dan itu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sengaja menyembunyikan risalah, atau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mengetahui apa yang baik bagi umatnya. Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini protes dan merasa berat dengan apa yang telah ia tetapkan dan contohkan ? Mengapa aqal dan hawa nafsu ini sering merasa lebih tahu -tentang baik dan buruk- ketimbang beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ? Ya, ALLAH. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku berbagai pengingkaran terhadap kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Boleh jadi itu bermula dari acuh tak acuhnya aku untuk mengenal nama-nama dan nasab beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan dari kurang minatnya aku membaca serta mempelajari riwayat hidupnya. Akhirnya butalah aku akan sunnah-sunnahnya dan tak mengertilah aku akan misi risalahnya. Dan jadilah aku orang yang hanya ikut-ikutan menyebut namanya tanpa memahami pertanggungjawabannya. Sanggupkah aku menjawabnya ?… Sungguh, aku akan berhadapan dengan pertanyaan yang jawabnya tak cukup di lisan, tetapi dari dalam keyakinan dan dibuktikan oleh perbuatan. Bukan hasil dari menghafal, tetapi dari beramal.Tak ada yang sanggup menuntun aku untuk menjawabnya kelak kecuali Engkau, Ya ALLAH. Aku tahu itu dan aku yakin, sebagaimana telah Engkau janjikan: “ALLAH meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat…”(Ibrahim: 27)
- Doa wanita lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah S.A.W akan hal tersebut,jawab baginda: "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."
- Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 orang lelaki yang soleh.
- Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis karena takutkan Allah S.W.T dan orang yang takutkan Allah S.W.T akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
- Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S
- Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W) di dalam syurga.
- Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.
- Daripada Aisyah r.a. "Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.
- Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
- Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
- Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
- Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).
- Aisyah r.a berkata "Aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W,siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab baginda, "Suaminya." "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah S.A.W "Ibunya."
- Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa sebulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dia kehendaki.
- Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
- Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.�
- Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T
- Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
- Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
- Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah S.W.T
Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air. Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah. "Hai, Blis!", panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis ketus. "Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci,Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!", Kiai mencoba mengusir. "Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenung. "Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu". "Dengan apa?" "Dengan sajadah!" "Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?" "Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!" "Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?" "Bukan itu saja Kiai..." "Lalu?" "Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar" "Untuk apa?" "Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah". Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya. Keduanya masih melakukan sholat sunnah. "Nah, lihat itu Kiai!", Iblis memulai dialog lagi. "Yang mana?" "Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka". Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf. Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa. Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas. Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa. Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain. "Astaghfirullahal adziiiim ", ujar sang Kiai pelan.
Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kepada Allah Subhanahu wata'ala dan jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali dan bertobat kepada-Nya. Tidur dini, berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah Radhiallahu'anha "Bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat".(Muttafaq `alaih) Disunnatkan berwudhu' sebelum tidur, dan berbaring miring sebelah kanan. Al-Bara' bin `Azib Radhiallahu'anhu menuturkan : Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu'lah sebagaimana wudlu' untuk shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan..." Dan tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya. Disunnatkan pula mengibaskan sperei tiga kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya..." Di dalam satu riwayat dikatakan: "tiga kali". (Muttafaq `alaih). Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar Radhiallahu'anhu menuturkan :"Nabi Shallallahu'alaihi wasallam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi Shallallahu'alaihi wasallam membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda :"Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka". (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani). Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi Shallallahu'alaihi wasallam telah bersabda: "Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya". (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani). Menutup pintu, jendela dan memadamkan api dan lampu sebelum tidur. Dari Jabir ra diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam telah bersabda: "Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman". (Muttafaq'alaih). Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas dan Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut. Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, seperti : Allaahumma qinii yauma tab'atsu 'ibaadaka "Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu". Dibaca tiga kali.(HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani). Dan membaca: Bismika Allahumma Amuutu Wa ahya " Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup." (HR. Al Bukhari) Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a dengan do`a berikut ini : " A'uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri 'ibaadihi, wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna." Aku berlindung dengan Kalimatullah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan dan kehadiran mereka kepadaku". (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani) Hendaknya apabila bangun tidur membaca : "Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa ba'da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuuru" "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan." (HR. Al-Bukhari)
Jakarta bergetar. Bukan terkena imbasan goyangan kaum Inul yang makin amburadul, tapi bergetar karena ledakan bom berkekuatan tinggi. Yup, ledakan bom High Explosive itu memporak-porandakan lokasi Plaza Mutiara dan Hotel Marriott yang terletak di kompleks perkantoran Mega Kuningan, Jakarta. Peristiwa yang memakan korban jiwa 14 orang meninggal dan puluhan lainnya mengalami luka itu terjadi saat lokasi padat pengunjung untuk beristirahat dan makan siang. Tragis! (eramuslim.com) Kasus peledakan bom di Hotel JW Marriott makin menambah deretan panjang tindakan perusakan sarana umum yang terjadi di tengah masyarakat yang banyak menimbulkan korban. Kasus yang serupa juga pernah terjadi sebelumnya. Bahkan banyak banget. Entah apa yang telah ditanam sehingga Indonesia kayak lagi panen Bom. Dan pasti kita yakin, rentetan tindakan teror melalui peledakan bom ini bukan tanpa maksud. Apalagi pas lagi hangat-hangatnya tahi ayam, eh persidangan kasus Bom Bali. Bisa jadi kan, ada sangkut pautnya. Nah, ini barangkali yang kudu kita lihat lebih dekat. Biar kita tambah gaul. Setuju? Kudu! Sobat muda muslim, maraknya tindakan teror melalui aksi-aksi peledakan bom bikin kita was-was. Masalahnya bom itu bukan cuma meledak di peperangan atawa pelem-pelem Hollywood. Tapi udah melebarkan sayapnya menimpa prasarana umum. Mulai dari perkantoran, pusat perbelajaan, rumah ibadah, bandara, sampe caf� dan restoran. Korbannya pun nggak dipilih-pilih. Pokoknya bantai! Mungkin pelaku bom itu mirip-mirip robot cewek antagonis musuhnya Arnold Schwarzeneger dalam film teranyarnya; Terminator 3.. Sadis abis! Ada teror di balik bom Seandainya ada pertanyaan �apa motif dibalik teror bom ini?� di benak kamu, kamu layak dapet applause yang meriah. Karena, nggak banyak di antara kita yang peduli dengan tindakan teror ini. Kalo pun ada, nggak jauh dari ucapan bela sungkawa, doa bersama, atau tabur bunga di TKP untuk mengenang para korban. Salah? Nggak juga. Tapi mungkin kurang komplet. Akan lebih pas kalo rasa peduli kita dibarengi dengan upaya mencari jawaban pertanyaan di atas. Biar kita gaul en nggak ketinggalan informasi. Jangan sampe deh, orang-orang lagi rame ngomongin Bom Marriot, eh kita dengernya Bom Mak Erot. Berabe kan? Di negeri ini telah terjadi 63 kasus peledakan bom sejak tahun 1962�2002. Seperti yang terjadi tahun 2000, ketika C4 menghantam kediaman Kedubes Filipina di Jakarta yang memakan korban 2 orang meninggal dan 20 luka-luka. Atau tanggal 13 September 2000 di Gedung BEJ; dan 23 Juli 2001 di Atrium Senen Jakarta. (sekitarkita.com). Sabtu (12/10), pukul 23.30 WITA, bom berkekuatan besar meledak di Bali. Meluluh-lantakkan diskotek Sari Club, serta bangunan dan benda-benda lain di sekitarnya dalam radius 10-20 meter. Peristiwa-yang selanjutnya disebut sebagai �Sabtu Hitam di Legian�-memang benar-benar merupakan peristiwa tragis dan memilukan. Siapa pun orangnya akan mengutuk pelakunya. Korban ledakan dalam peristiwa tersebut tercatat 187 orang tewas, 282 orang cedera, 4 bangunan rubuh, 20 bangunan rusak berat, 27 mobil rusak berat dan 7 buah motor rusat berat (Republika, 14/10/2002) Nggak ketinggalan di belahan dunia lain pun peristiwa peledakan bom menghiasi media massa. Peristiwa Bom Casablanca, Maroko dan Riyadh pada bulan Mei yang lalu. Atau Bom Bombay, serta Bom Najaf, di Irak yang menewaskan pemimpin Syiah Ayatollah Mohammed Baqer al-Hakim dan 126 lainnya pada 29 Agustus 2003 lalu.. Tindakan teror melalui peledakan bom ini memang menjadi momok bagi masyarakat. Dan hal ini diawali pascatragedi WTC 11 September 2001. Tragedi yang memakan korban ribuan jiwa itu seakan memicu aksi-aksi peledakan bom di setiap penjuru dunia. Apalagi George W. Bush memanfaatkan peristiwa ini dengan mempropagandakan 'War Against Terrorism'-nya untuk menguasai dunia. Walhasil, setiap negara dipaksa untuk memilih: mendukung AS atau menentang AS. Ini kelihatan banget dari pernyataan Bush yang bernada mengancam. Dia bilang: "Either you are with us or you are with the terrorist?". Arogan banget tuh! Parahnya, AS menempatkan Indonesia termasuk negara yang masih 'malu-malu' mendukungnya. Ketika genderang perang melawan teroris ditabuh Amerika, Indonesia masih enggan masuk barisan AS dalam menggempur teroris versi AS. Bahkan, ketika AS menyerang Afghanistan, Indonesia termasuk yang gencar mengkritik. Bahkan, soal JI dan seterusnya, Indonesia masih belum bertindak. Meskipun majalah Time sudah berkali-kali membuat laporan tentang aktivitas JI di Indonesia, dan mengangkat soal Abu Bakar Baasyir, Indonesia belum mengambil tindakan apa-apa. Sehingga, disinyalir ada keterlibatan pihak asing dalam tragedi bom Bali dan Bom Marriot. Agar Indonesia lebih gencar bin responsif lagi melawan teroris dan berpihak pada AS. Nah lho. Bener apa bener? Kenapa kudu Islam? Makin gencarnya propaganda akan teroris turut mempopulerkan beberapa nama tokoh aktivis Islam di kuping kita. Populernya bisa ngalahin Amelia Vega, miss Universe asal Republik Dominika. Sebut aja nama-nama Imam Samudera, Amrozi, Encep Nurjaman alias Hambali, Ali Imran, Ali Ghufran, Fathurrahman al-Ghazi atau Asmar Latin Sani. Mereka semua dituding sebagai pelaku pengeboman yang menghebohkan. Padahal, bisa jadi mereka adalah korban (atau sangat boleh jadi boneka yang dipajang atas titah AS?). Bisa juga emang korban dari sebuah konspirasi tingkat tinggi intelijen (ciee.. kayak di film James Bond aja neh). Tapi emang bener lho. Tindakan teror yang menghujani negeri ini nggak bisa dipisahkan dari muatan politis. Seperti definisi terorisme yang ditetapkan oleh Amerika 'terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk melawan kepentingan-kepentingan sipil guna mewujudkan target-target politis.' Sobat muda muslim, kayaknya kita nggak bisa menutup mata dengan sikap tendensius dunia�yang diwakili Amerika�terhadap Islam dan kaum muslimin. Coba lihat, Amerika menyebut Gerakan Revolusioner Nikaragua (Zapatista) atau Tentara Pembebasan Irlandia (IRA) sebagai 'Gerakan Perlawanan Rakyat'. Sementara, terhadap gerakan-gerakan�khususnya gerakan Islam--yang bertentangan atau mengusik kepentingannya disifati sebagai teroris. Tentu dengan definisi yang ditetapkan sendiri oleh Amrik. Jahat bener tuh! Gejlig. Tewewew..! Maka, al-Qaida dinobatkan sebagai musuh terbesar Amerika pascatragedi WTC. Sama halnya dengan Angkatan Mujahidin Islam Nusantara (AMIN) yang diklaim bertanggung jawab terhadap aksi peledakan Masjid Istiqlal, 19 April 1999 silam. Padahal keberadaan Al-Qaida, Jamaah Islamiyah atau AMIN secara organisasi tidak terbukti alias fiktif. Jadi tuduhannya? Asal! Dengan ujung tombak media massa, Amerika menggiring opini dunia kepada gerakan Islam sebagai pelaku tindakan teror. Kompas tanggal 7 Agustus 2003, malah memberitakan, bahwa Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer menyatakan, bom di Jakarta berkaitan dengan Jamaah Islamiyah. Menurut harian ini, sehubungan dengan bom tersebut, seorang operator JI yang tidak diketahui namanya menyebutkan kepada surat kabar Singapura, The Straits Times, bahwa ledakan bom di Hotel JW Marriott itu sebagai �peringatan berdarah" kepada Presiden Megawati. Seperti catatan Adian Husaini tentang Bom Marriott yang ditulis di eramuslim.com, 19-08-2003 menyatakan, �dari sisi jurnalistik berita yang ditulis Kompas dan Strait Times itu sebagai berita sampah dan tidak layak muat. Karena mana mungkin kita menyandarkan kebenaran sebuah berita kepada seseorang yang mengaku sebagai operator JI. Padahal siapa pun bisa mengaku sebagai operator JI..� (backsound: sekali lagi, asal!) Nah, dari paparan di atas Amerika udah bener-bener benci banget dengan Islam. Dan inilah yang coba diungkapkan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilitation and the Remaking of World Order.. Dia bilang, musuh terbesar peradaban Barat-Kristen pasca perang dingin adalah Islam. Hal yang sama juga dinyatakan dalam tesis Esposito (1995:13), bahwa banyak orang Barat mengatakan: "Islam dan gerakan-gerakannya merupakan alternatif tantangan religius dan ideologis, yang beberapa hal, merupakan bahaya bagi Barat." Jelas bukan jawabannya? Yup, Amerika tuh ibarat maling teriak maling. Lha, doi sendiri teroris, malah nuduh Islam. Hih! Maju terus pantang kabur Sobat muda muslim, tindakan teror di mana-mana begitu banyak menimbulkan side effect.. Yang pasti bukan rasa kantuk atau perut mual-mual. Tapi efek yang bikin sebagian dari temen kita harus ekstra kerja keras melobi orang tuanya biar boleh ngaji. Bener lho. Nggak sedikit dari orang tua remaja muslim merasa khawatir kalo ngeliat anaknya ikut pengajian tapi bukan baca tulis al-Quran (masak iya sih anak SMU masuk TPA? Hehehe..). Apalagi kalo udah ngelihat gelagat anaknya berubah. Kaos oblong berubah menjadi baju koko. Musiknya jadi berbau religius. Sampei ikut-ikutan tereak-tereak dalam aksi damai menentang Amerika. Propaganda Amerika dalam perang melawan teroris mampu mengkerdilkan makna ajaran Islam sebatas ajaran religius. Always Peace and No War.. Padahal, ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. nggak cuman 'Peace' atau 'War'. Tapi ada saatnya Islam mengajarkan adab bertetangga, berteman, atau bersosialisasi tanpa mengedepankan kekerasan meski dengan nonmuslim. Ada saatnya pula Islam mengharuskan kita tegas dalam bersikap yang menunjukkan kedewasaan; ketika kaum muslimin mengalami penindasan di seluruh penjuru dunia; ketika ajaran Islam di-'permak' agar sama dengan agama lain yang hanya mengajarkan Ibadah. So, mari kita sama-sama perdalam Islam. Biar kita bisa meyakinkan orang-orang yang mengkhawatirkan kita karena ikut pengajian. Biar kita bisa menunjukkan bahwa Islam tidak seperti yang diberitakan di media massa. Bahwa Islam bukan agama teroris. Biar keyakinan kita akan kebenaran Islam kian tertancap kuat dalam dada kita. Meski banyak suara-suara 'sumbang' dari musuh-musuh Islam. Firman Allah Swt.: (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.� (QS Ali Imran [3]: 173) Dan jangan lupa, kita perkuat juga barisan Islam. Dengan menempatkan persamaan sebagai titik pemersatu. Bukan mencari perbedaan yang bisa berujung pada perpecahan. Biar di antara kita bisa saling mengingatkan dan menasihati. Juga saling memberikan dukungan untuk tetep istiqomah. Sehingga kita bisa bangkit dan mampu melawan upaya musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Sapu lidi pasti lebih tokcer buat mengusir kucing daripada sebatang lidi. Maju terus pantang kabur! Tetap semangat! [hafidz
Ramadhan 92 H, atau bertepatan dengan tahun 711 M, Thariq bin Ziyad dan pasukannya merapat di pantai Spanyol, dengan membawa misi untuk menyebarkan dakwah Islam. Sayang, Raja Roderick dan pasukannya menolak, dan bahkan mengobarkan peperangan. Peperangan itu sebenarnya bermula dari pertikaian antara sesama Kristen Spanyol. Raja Roderick yang berkuasa saat itu, memaksakan keyakinan Trinitas Kristen yang dianutnya kepada umat Nasrani Aria. Berbeda dengan para pendukung Roderick yang meyakini Nabi Isa sebagai Yesus, yaitu Allah Bapak, Anak Tuhan, dan Ruh Kudus, kaum Nasrani Aria meyakini Nabi Isa semata sebagai utusan Allah. Pemaksaan keyakinan Trinitas oleh Raja Roderick ini menimbulkan penindasan di kalangan Nasrani Aria. Lantas, pimpinan mereka meminta bantuan kepada Pasukan Thariq bin Ziyad yang memang sudah merapat di Spanyol dalam misi dakwah dari khalifah. Panglima Thariq menerima permintaan pemimpin Nasrani Aria. Itu sebabnya, dalam sebuah pidatonya sesaat sebelum melakukan pertempuran dengan pasukan Raja Roderick, Thariq bin Ziyad memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa seluruh awak pasukannya dari Afrika, kecuali beberapa pasukan kecil yang diminta pulang untuk meminta bantuan kepada khalifah. Pidato ‘kontroversial’ itu karuan aja membuat pasukannya keheranan. Namun beliau mengatakan, “Di belakang kita ada lautan luas, di hadapan kita pasukan musuh. Jadi, kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan; menaklukkan negeri ini dan menetap di sini serta mengembangkan Islam, atau kita semua binasa (syahid)”. Peristiwa di tahun 711 M itu mengawali masa-masa Islam di Spanyol. Pasukan Thariq sebenarnya bukan misi pertama dari kalangan Islam yang menginjakkan kaki di Spanyol. Sebelumnya, Gubernur Musa Ibnu Nushair telah mengirimkan pasukan yang dikomandani Tharif bin Malik. Tharif sukses. Kesuksesan itu mendorong Musa mengirim Thariq. Saat itu, seluruh wilayah Islam masih menyatu di bawah kepemimpinan Khalifah al-Walid dari Bani Umayah. Thariq mencatat sukses. Ia mengalahkan pasukan Raja Roderick di Bakkah. Setelah itu ia maju untuk merebut kota-kota seperti Cordova, Granada dan Toledo yang saat itu menjadi ibukota kerajaan Gothik. Ketika merebut Toledo, Thariq diperkuat dengan 5.000 orang tentara tambahan yang dikirim Musa Ibnu Nushair. Thariq kembali sukses. Bukit-bukit di pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq, yang kemudian dikenal dengan sebutan Gibraltar. Musa bahkan ikut menyeberang untuk memimpin sendiri pasukannya. Ia merebut wilayah Seville dan mengalahkan Penguasa Gothic, Theodomir. Musa dan Thariq lalu bahu-membahu menguasai seluruh wilayah Spanyol selatan itu. Pada 755 Masehi, Abdurrahman tiba di Spanyol. Abdurrahman ad-Dakhil, demikian orang-orang menjulukinya. Ia membangun Masjid Cordova, dan menjadi penguasa di Andalusia dengan gelar Amir. Keturunannya melanjutkan kekuasaan itu sampai 912 Masehi. Kalangan Kristen sempat mengobarkan perlawanan “untuk mencari kematian” (martyrdom). Namun penguasa Bani Umayah di Andalusia ini mampu mengatasi tantangan tersebut. Sekadar kamu tahu, bahwa peperangan dalam Islam adalah untuk menghidupkan manusia bukan untuk memusnahkan. Itu sebabnya, ketika kaum muslimin menang perang dan menguasai wilayah tidak bertujuan menjajahnya. Berbeda dengan ideologi Kapitalisme yang memang tujuan mereka berperang adalah untuk menguasai wilayah dan menjajahnya (baca: menguras seluruh potensi wilayah itu untuk kepentingan bangsanya). Sejarawan Barat beraliran konservatif, W. Montgomery Watt dalam bukunya Sejarah Islam di Spanyol, mencoba meluruskan persepsi keliru para orientalis Barat yang menilai umat Islam sebagai yang suka berperang. Menurutnya, “Mereka (para orientalis) umumnya mengalami mispersepsi dalam memahami jihad umat Islam. Seolah-olah seorang muslim hanya memberi dua tawaran bagi musuhnya, yaitu antara Islam dan pedang. Padahal, bagi pemeluk agama lain, termasuk ahli kitab, mereka bisa saja tidak masuk Islam meski tetap dilindungi oleh suatu pemerintahan Islam.” Hmm.. perlu dicatet tuh. Itulah yang terjadi sepanjang perjalanan sejarah masuknya Islam ke Spanyol. Islam, tak hanya masuk dengan damai, namun dengan cepat menyebar dan membangun peradaban tinggi hingga Spanyol mencapai puncak kejayaannya. Kota-kota terkemuka Spanyol seperti Andalusia dan Cordova, menjadi center of excellent peradaban dunia. Keren nggak? Berkembangnya iptek Montgomery menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam nggak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah. Nggak mengherankan tentunya jika para ulama terkemuka seperti Ibnu Rusyd (1126-1198) misalnya, yang terkenal di Barat dengan nama Averous, diakui pula sebagai ilmuwan yang handal di bidangnya. Ibnu Rusyd adalah filosof, dokter, dan ahli fikih Andalusia. Bukunya yang terpenting dalam bidang kedokteran ialah al-Kulliyat yang berisi kajian ilmiah pertama kali mengenai tugas jaringan-jaringan dalam kelopak mata. Bukunya dalam bidang fikih adalah Bidayatul Mujtahid. Spanyol juga punya az-Zahrawi yang dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan teknik pembedahan manusia. Az-Zahrawi yang lahir dekat Cordova pada 936 Masehi, dikenal pula sebagai penyusun ensiklopedi pembedahan yang karya ilmiahnya itu dijadikan referensi dasar bedah kedokteran selama ratusan tahun. Sejumlah universitas, termasuk di Barat, menjadikannya acuan. Kontribusi ilmuwan Islam di bidang astronomi nggak kalah seru. Adalah az-Zarkalli, astronom muslim kelahiran Cordova yang pertama kali memperkenalkan astrolobe. Yaitu suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur jarak sebuah bintang dari horison bumi. Penemuan ini menjadi revolusioner karena sangat membantu navigasi laut. Dengan begitu, transportasi pelayaran berkembang pesat selepas penemuan astrolobe. Jadi jelas, ilmu pengetahuan, bukanlah bagian yang terpisahkan dari syariat Islam dan etika moral. Menurut Montgomery, nggak ada yang dapat melukiskan relasi antara ilmu pengetahuan, etika, dan agama daripada kata-kata filosofis Ibnu Rusyd: “Filsafat, tak berarti apa-apa jika tak bisa menghubungkan ilmu pengetahuan, agama dan etika dalam suatu relasi harmonis.” Ibnu Rusyd pernah mengatakan, bahwa ilmu pengetahuan dibangun di atas fakta-fakta dan logika hingga sampe kepada suatu penjelasan rasional. Etika, merefleksikan manfaat setiap riset ilmiah, sehingga harus bisa memberi nilai tambah bagi kehidupan. Sedangkan firman Allah, yakni al-Quran, menjadi satu-satunya pembimbing kita untuk sampai pada tujuan hakiki dari hidup ini. Itu sebabnya barangkali, W.E. Hocking berkomentar, “Oleh karena itu, saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikatakan, bahwa hingga pertengahan abad ke tigabelas, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.” (The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461) Menurut Montgomery, cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’nya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika Barat berhutang budi pada Islam. Benteng terakhir itu bernama Granada Sayangnya, masa pencerahan bagi seluruh dunia ini kemudian dikotori oleh para pemimpin Eropa yang bersepakat meninggalkan agama dalam segala aspek kehidupan dan mengembangkan dengan apa yang kemudian dikenal sebagai sekularisme. Akibatnya, keagungan peradaban Islam yang dibangun di Spanyol, berakhir dengan tragis. Yaitu saat penguasa kafir Eropa menghancurkan semua karya pemikiran para ilmuwan muslim. Tak hanya karya-karyanya yang dimusnahkan, para ilmuwannya pun disingkirkan. Ibnu Massarah diasingkan, Ibnu Hazm diusir dari tempat tinggalnya di Majorca. Kitab-kitab karya Imam al-Ghazaly dibakar, ribuan buku dan naskah koleksi perpustakaan umum al-Ahkam II dihanyutkan ke sungai, Ibnu Tufayl dan Ibnu Rusyd disingkirkan. Nasib yang sama, dialami juga oleh Ibnu Arabi. Kebijakan ‘bumi hangus’ itu menyebabkan sulit merekontruksi perjalanan sejarah Islam di Eropa. Namun demikian, keberadaan Granada, Cordova, Sevilla, dan Andalusia sebagai bukti keagungan peradaban Islam di Spanyol tak bisa dipungkiri. Meski akhirnya sirna juga dihancurkan Pasukan Salib Eropa. Oya, petaka Perang Salib juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perpustakaan paling berharga yang ada di Tripoli, Maarrah, al-Quds, Ghazzah, Asqalan, dan kota-kota lainnya yang dihancurkan mereka. Salah seorang sejarawan menaksir, buku-buku yang dimusnahkan tentara Salib Eropa di Tripoli sebanyak tiga juta buah. Pendudukan Spanyol atas Andalusia juga telah membuat kita kehilangan perpustakaan-perpustakaan besar yang diceritakan sejarah dengan mencengangkan. Semua buku dibakar oleh pemeluk-pemeluk agama yang fanatik. Bahkan buku-buku yang dibakar dalam sehari di lapangan Granada menurut taksiran sebagian sejarawan berjumlah satu juta buku. (Dr. Mustafa as-Siba’i, Peradaban Islam; Dulu, Kini dan Esok, hlm. 187) Granada tinggal kenangan, sejak berkecamuknya Perang Salib. Tepat pada 2 Januari 1492, Sultan Islam di Granada, Abu Abdullah, untuk terakhir kalinya terlihat di Istana al-Hamra. Granada jatuh ke tangan kaum kafir Eropa. Semua merasa kehilangan (apalagi kalo kita mengenal Spanyol sebatas klub sepakbola Real Madrid atau Barcelona. Menyedihkan!). Sekadar tahu aja bahwa Granada, kota yang terletak di selatan kota Madrid, ibukota Spanyol sekarang, adalah salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam yang agung dan tergolong dalam kawasan lainnya yang tak kalah menarik dan bersejarah setelah Andalusia, Cordova, Balansiah, Bahrit, Ichiliah, Tolaitalah dan yang lainnya. Granada juga masyhur sebagai kiblat yang menjadi tumpuan harapan para pelajar yang datang dari segenap kawasan yang berada di sekitar Granada, baik kaum muslimin maupun nonMuslim. Pusat pengkajian yang masyhur di Granada adalah al-Yusufiah dan an-Nashriyyah. Di sini, juga telah melahirkan banyak ilmuwan muslim yang terkenal. Di antaranya Abu al-Qasim al-Majrithi sebagai pencetus kebangkitan ilmu astronomi Andalusia pada tahun 398 Hijriah atau sekitar tahun 1008 Masehi. Beliau telah memberikan dasar bagi salah satu pusat pengkajian ilmu matematika yang masyhur. Selain beliau, Granada juga masih memiliki sejumlah ilmuwan dan ulama terkenal, di antaranya adalah al-Imam as-Syatibi, Lisanuddin al-Khatib, as-Sarqasti, Ibnu Zamrak, Muhammad Ibnu ar-Riqah, Abu Yahya Ibnu Ridwan, Abu Abdullah al-Fahham, Ibnu as-Sarah, Yahya Ibnu al-Huzail at-Tajiibi, as-Shaqurmi dan Ibnu Zuhri. Di kalangan perempuan tercatat nama-nama seperti Hafsah binti al-Haj, Hamdunah binti Ziad dan saudaranya, Zainab. Amat wajar dong kalo ilmuwan sekelas Emmanuel Deutch berkomentar, “Semua ini memberi kesempatan bagi kami (bangsa Barat) untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, sewajarnyalah jika kami selalu mencucurkan airmata manakala kami teringat saat-saat terakhir jatuhnya Granada.” (M. Hashem, Kekaguman Dunia Terhadap Islam, hlm. 100) Granada adalah benteng terakhir kaum muslimin di Andalusia (Spanyol) yang jatuh ke tangan bangsa Eropa yang kafir. Semoga Islam kembali memimpin dunia. Mencerahkan dan menjadi “rahmatan lil ‘alamin”. Yup, Islam yang memberikan masa depan dunia dengan lebih cerah. Jadi, yuk berjuang untuk membela Islam dan menegakkannya dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Tunggu apalagi sobat? Ayo, berjuang sekarang juga! [solihin: sholihin@gmx.net]
Syaikh Abdul Malik Ramadhani Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani bertanya : "Apakah setiap orang yang bersamamu (yang mendukung partaimu) mengetahui bahwa Allah bersemayam di atas Arsy? Dimana Allah? Suatu ketika syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani pernah bertemu dengan salah seorang pemimpin partai Islam (dari Aljazair), Ali bin Hajj. Syaikh mengetahui sangat detail tentang kejadian yang terjadi pada mereka, dan telah sampai berita kepada beliau bahwa partai mereka mendapat dukungan jutaan pendukung. Diantara pertanyaan yang dilontarkan syaikh kepadanya yaitu yang saya nukil secara ringkas disini : Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani bertanya : "Apakah setiap orang yang bersamamu (yang mendukung partaimu) mengetahui bahwa Allah bersemayam di atas Arsy? Setelah terjadi dialog, dimana Ali bin Hajj berupaya untuk lari dari pertanyaan syaikh al-Albani, dan syaikh-pun berupaya untuk menutup jalan keluar dari pertanyaan diatas, dia menjawab pertanyaan beliau dengan mengatakan : "Kami berharap demikian."Syaikh berkata kepadanya : "Tinggalkan jawabanmu yang bersifat politis ini!"Lalu, diapun menjawab dengan tegas bahwasanya mereka tidak mengetahui hal itu. Maka, syaikh berkata : "Cukuplah bagiku jawabanmu ini!" Prinsip Tasfiyyah (pemurnian) dan Tarbiyyah (mendidik) mengharuskan pertanyaan diatas yang merupakan barometer yang paling tepat. Dengannya akan diketahui hakekat berbagai dakwah/jama'ah-jama'ah pada zaman ini yang menyerukan jihad. Sebab, orang yang tidak mampu memurnikan akidah para pendukung dan pecintanya, tentu ketidak mampuannya akan lebih nampak pada pemurnian (buah dari aqidah tersebut), baik dalam akhlak, perilaku maupun dalam berbagai amal perbuatan mereka. Padahal diantara mereka (pendukungnya) ada orang yang membenci dan memeranginya, maka bagaimana mungkin ia dapat membina mereka sesudah itu? Sedangkan Allah berfirman : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (ar-Ra'd : 11) Selanjutnya, jihad itu sendiri tidak akan terwujud kecuali dengan sebuah umat yang hati mereka bersatu. Karena bersatunya hati akan sangat menunjang bagi perolehan kemenangan, sebagaimana firman Allah : "Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mu'min, dan yang mempersatukan hati mereka." (al-Anfaal : 62-63) Sedangkah hati-hati itu, jika tidak disatukan diatas aqidah salafus shalih, niscaya mereka akan selalu berada dalam perselisihan yang tidak akan mungkin dapat disatukan dengan persatuan mereka melalui kotak-kotak pemilihan umum. Allah berfirman dengan mengarahkan firman-Nya kepada para Sahabat Nabi, semoga ridha Allah atas mereka : "Maka jika mereka beriman kepada apa yang telah kamu beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk ; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan denganmu." (Al-Baqarah : 137) Bagaimanapun yang telah diupayakan oleh para "Buih politik" itu, berupa pengumpulan (masa pendukung), namun sesungguhnya permulaan aqidah mereka mengarah kepada suatu sikap "Tamyi" (sikap menerima siapa saja yang mendukung mereka tanpa memperhatikan aqidah yang dianutnya) dan akan berakhir dengan perpecahan dan saling membid'ahkan. Hal itu disebabkan karena pertemuan/persatuan yang bersifat jasmani tidak akan terwujud, kecuali hanya bersifat sementara bilamana ikatan hati bercerai-berai. Dan saya tidak menjumpai suatu sifat (gambaran) yang lebih tepat dan benar untuk menggambarkan kondisi mereka, daripada apa yang telah difirmankan Allah perihal orang-orang Yahudi : "Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati-hati mereka terpecah-belah." (al-Hasyr : 14) Intinya, bahwa Allah telah menjadikan kekuasan yang baik bagi hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya saja. Tanpa menyekutukan-Nya, Allah berfirman : "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. (an-Nur : 55) Bagian terdepan ayat ini tidak boleh ditolak dengan memberikan perumpamaan-perumpamaan sejarah untuk membatalkannya, karena seorang muslim adalah orang yang senantiasa berhenti pada nash (ayat al-Qur'an dan hadits Rasulullah), lagi pula Allah telah berfirman : "Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (an-Nahl : 74) Adapun pembatasan syaikh al-Albani akan pertanyaannya pada masalah istiwa (bersemayamnya Allah diatas singgasana-Nya) disebabkan karena masalah istiwa merupakan persimpangan jalan yang memisahkan antara ahlussunnah dan para pengikut hawa nafsu. Lagi pula ia merupakan masalah aqidah yang mudah lagi gampang diketahui oleh masyarakat yang hidup bersama Nabi, yang mana mereka telah menaklukkan dunia ini dan memimpin umat-umat yang beraneka ragam. (Aqidah ini telah diketahui oleh mereka). Bahkan oleh seorang wanita penggembala kambing sekalipun. Ujian itu dilakukan oleh syaikh al-Albani dengan menanyakan masalah ini kepada pemimpin partai politik tersebut, yang beranggapan bahwa partainya telah sempurna agamanya dan berada di atas garis kejahilan (orang-orang yang hidup) di zamannya. Ujian ini merupakan jalan atau cara yang ditempuh oleh para salafus shalih, meskipun dibenci oleh setiap khalaf (orang yang datang sesudah mereka) yang tidak menempuh jalan dan cara mereka. Imam Muslim dan lainnya telah meriwayatkan dari Muawiyyah bin al-Hakam as-Sulami ia berkata : "Aku memiliki sekawanan kambing yang berada diantara gunung Uhud dan Jawwaniyah, disana ada seorang budak wanita. Suatu hari aku memeriksa kambing-kambing itu, tiba-tiba aku dapati bahwa seekor serigala telah membawa (memangsa) salah satu diantara kambing-kambing itu, sementara aku seorang manusia biasa, aku menyesalinya, lalu aku menampar wanita itu. Kemudian kudatangi Nabi r dan kuceritakan kejadian tersebut kepadanya, beliaupun membesarkan peristiwa itu atasku, maka kukatakan (kepadanya) : 'Wahai Rasulullah, tidakkah (lebih baik) aku memerdekakannya?' Beliau berkata : 'Panggillah ia!' Lalu aku memanggilnya, maka beliau berkata kepadanya : 'Dimana Allah?' Wanita itu menjawab : 'Diatas'. Beliau bertanya lagi : 'Siapakah aku?' Ia menjawab : 'Engkau adalah utusan Allah!' Beliau berkata : 'Bebaskanlah (merdekakanlah dia)! karena sesungguhnya dia adalah seorang wanita yang beriman'." (Ahmad V/447, Muslim No. 537) Maka, perhatikanlah dengan seksama masyarakat tersebut (semoga Allah merahmati anda), yang mana Rasulullah berjihad bersama mereka, aqidah mereka sempurna (merata) hingga pada para penggembala kambing, yang mana perjumpaan (pergaulan) mereka dengan Rasulullah hanya sedikit, seperti wanita penggembala kambing ini. Dan cobalah anda perhatikan dengan seksama realita masyarkat Islam di zaman ini memanjat kursi-kursi kekuasaan, -jika anda memperhatikan dengan seksama- pasti akan anda dapatkan perbedaan yang sangat jauh antara jihad (perjuangan) mereka dengan perjuangan masyarakat muslimin yang pertama. Maka, mampukah kelompok-kelompok jihad itu menyatukan para pengikut (mereka) diatas aqidah “ainallah” (dimana Allah)? Ataukah pertanyaan ini sudah menjadi sesuatu yang ditertawakan dan jarang dipertanyakan oleh kelompok-kelompok itu di zaman yang telah dipengaruhi kemajuan ini? Ataukah pertanyaan ini telah menjadi sesuatu yang diperolok-olokan oleh para pengasuh jama'ah-jama'ah itu? Ataukah mereka telah memahami pentingnya berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, meskipun mereka menyia-nyiakan Allah ? Maka, kapankah Allah akan mengizinkan untuk melepaskan, membebaskan dan memerdekakan mereka dari orang-orang yang menghinakan mereka sebagaimana telah dibebaskannya budak wanita itu setelah ia mengenal Allah ? "Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (Yusuf : 21) Hakikat pertanyaan ini (dimana Allah) adalah upaya untuk menampakkan hakikat/jati diri dakwah-dakwah itu serta memperjelas, sejauh mana keikhlasan niat-niat (mereka). Sebab, dalam perhatian yang dicurahkan pada permasalahan hukum mengandung perhatian terhadap syariat dan dalam perhatian yang dicurahkan kepada masalah istiwa' (bersemayamnya Allah diatas 'Arsy/singgasana-Nya), mengandung perhatian terhadap hak Allah. Namun, diantara kedua perhatian diatas terdapat perbedaan, yaitu bahwasannya pada perhatian yang pertama (terhadap hukum) seorang hamba memperoleh bagian untuk dirinya berupa apa yang sering diucapkan diatas lisan, seperti pengembalian segala sesuatu yang diambil secara zhalim (kepada pemiliknya), pemenuhan segala hak-hak (bagi mereka yang berhak menerimanya) dan kehidupan yang senantiasa tercukupi yang benar-benar telah dijanjikan Allah dalam firman-Nya : "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (al-A'raaf : 96) Artinya, bagian (hak) seorang hamba bercampur (berhubungan erat) dengan hak Allah. Adapun perhatian terhadap "Sifat istiwa' Allah diatas singgasana-Nya" merupakan perhatian yang murni terhadap hak Allah semata. Seorang yang mengajak menusia kepada penetapan dan iman kepada sifat ini tidak mendapat bagian untuk kepentingan pribadinya sendiri sedikitpun. Maka, perhatikanlah secara seksama perbedaan ini, pasti anda akan mengetahui kemuliaan sebuah keikhlasan. Sebab, dengungan seputar permasalahan "Hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah " yang disertai dengan sikap menganggap enteng terhadap permasalahan sifat-sifat Allah yang murni atau mengakhirkannya atau menjadikannya sebagai suatu masalah yang berada pada urutan terakhir, semua itu merupakan bukti terbesar yang menunjukkan bahwa pada urutan tersebut terdapat suatu cacat. Padahal sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang paling mulia yang diturunkan-Nya, karena kemuliaan suatu ilmu tergantung pada kemuliaan yang dipelajari dalam ilmu tersebut. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Semua ini semakin memberi penekanan yang kuat kepada kita akan pentingnya merujuk (kembali) kepada dakwah / ajakan para Nabi alaihimussalam yang telah menyatakan kepada umat-umat mereka : "Beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tak ada ilah (yang sebenarnya) bagimu selain Dia." (al-A'raaf : 59) Maka, dahulukanlah perhatian terhadap kesyirikan yang terjadi di kuburan-kuburan atas kesyirikan yang terjadi di istana-istana, jika ungkapan ini pantas untuk diucapkan, oleh sebab itulah, maka masalah imamah (kekhalifahan/kepemimpinan) bukan merupakan bagian dari rukun-rukun iman, renungkanlah !!! Maraji':Diterjemahkan dari kitab Sittu Durror karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani
Oleh : KH Abdullah Gymnastiar SAUDARAKU, materialistis adalah salah satu penyakit yang melanda tidak saja orang-orang non muslim, tetapi juga sebagian besar kaum muslimin. Bagi orang-orang yang dilanda penyakit ini, hal yang dipikirkan dan dicarinya terus menerus siang malam hanyalah segala sesuatu yang bersifat duniawi. Ia serta-merta akan merasa bangga ketika dunia datang kepadanya, sehingga menjadi sibuk pamer dan sibuk sombong meremehkan orang lain. Sebaliknya, ia akan sangat terluka sedih luar biasa, terpuruk dan terpukul manakala Allah mengambil kembali dunia itu dari genggamannya. Sebagaimana firman Allah dalam QS At-Tin [95] ayat 4-5 ”Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (Neraka)”. Sehingga, meski orang telah memiliki berbagai apa pun di dunia ini, kalau qolbunya tidak pernah mengenal Allah Dzat pemilik alam semesta ini, maka ia tidak akan pernah memiliki, apalagi dapat menikmati hakikat kemuliaan diri dan ketenteraman dalam hidup. Barangsiapa yang mulai terperosok oleh kerinduan dipuji karena dunia, akan terkuras habis waktunya digunakan untuk berpikir dan bekerja banting tulang demi mendapatkannya, tanpa ia sendiri bisa menikmatinya. Siang dan malam mengejar kekayaan, lupa membina istri, alpa mendidik anak-anak, apalagi berpikir untuk bekal kepulangan ke akhirat kelak. Segala cara dihalalkan harta pun melimpah ruah. Demi kenyamanan pergi dan pulang kantor atau bepergian ke manapun yang diinginkan, mobil mewah berharga ratusan juta rupiah pun ia usahakan. Cobalah kita tanya, berapa menit kah dalam sehari ia sempat menikmati kursi empuknya. Kenyataannya justru sang sopirlah yang enak-enak tiduran di kursi empuk sedan sementara menunggu majikan keluar dari tempat kerjaan. Tetapi, sang majikan yang setiap hari dipusingkan oleh berbagai urusan kantor, pikirannya yang selalu tegang niscaya akan mudah marah meradang, sehinggga sang sopir bisa kena dampratan, pembantu di rumah pun kerap kali kena sasaran kemarahan. Oleh bawahannya di kantor ia sangat dihormati. Demikian juga oleh relasi rekannya ia disanjung dan dipuji. Akan tetapi, masya Allah, harga diri wibawa dan kemuliaannya justru jatuh terpuruk dimata sopir dan pembantunya sendiri karena ia telah terjebak oleh harta, gelar, pangkat, dan kedudukan yang disandangnya, yang ia sangka sebagai sumber segala kemuliaan hidupnya. Islam mengajarkan kita harus berikhtiar keras di dunia ini. Agar kita memiliki bekal hidup yang cukup. Akan tetapi untuk mendapatkannya kita harus memakai adab, sehingga harga diri kita tidak rontok karenanya. Bagaimana caranya agar kita tidak cinta dunia? Kuncinya tiada lain bahwa kita tidak dilarang untuk memiliki harta, gelar, pangkat, dan kedudukan untuk bekal hidup di dunia ini secukupnya saja, tetapi curahkanlah segala yang telah didapatkan itu sebanyak-banyaknya untuk beribadah kepada Allah Azza wa jalla, Dzat pemilik segala kemuliaan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Kemarahan pada dasarnya merupakan suatu hal yang normal dan pasti pernah dialami oleh semua individu. Di satu sisi manusia memang harus melepaskan semua amarah yang ada di dalam dirinya agar diperoleh suatu kelegaan atau terlepas dari adanya suatu beban berat. Namun di sisi lain tentu saja dituntut cara-cara yang tepat untuk mengungkapkan kemarahan tersebut sebab jika tidak maka hal itu bisa merusak sendi-sendi kehidupan yang mungkin sudah tertata dengan baik. Dengan kata lain individu harus mampu mengendalikan kemarahan tersebut sebelum kemarahan itu justru yang mengendalikan hidupnya. Dalam ruang konseling di website ini banyak sekali para member yang sudah mengalami bagaimana kemarahan sudah mengambil kendali dalam hidup mereka. Beberapa diantaranya menjadi sangat frustrasi karena menyadari bahwa dirinya begitu gampang terpancing untuk marah baik di kantor maupun di rumah sehingga tidak lagi mampu berinteraksi secara baik dengan orang lain (pacar, istri-anak, rekan kerja, maupun atasan-bawahan). Dengan kondisi yang demikian tentu saja si "pemarah" tersebut harus mendapatkan pertolongan dari para profesional sebab ketidakberdayaan untuk mengendalikan amarah sudah menimbulkan masalah baru. Hal seperti ini tentu amat disayangkan mengingat bahwa rasa marah (amarah) sebenarnya bisa dikendalikan ataupun dicarikan cara yang tepat untuk mengeluarkannya. Inilah yang akan dicoba untuk dibahas dalam artikel singkat ini dengan suatu harapan bahwa para pembaca dapat mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Amarah Amarah adalah salahsatu bentuk emosi manusia yang sepenuhnya bersifat normal dan sehat. Setiap individu pasti pernah marah dengan berbagai alasan. Meski merupakan suatu hal yang wajar dan sehat, namun jika tidak dikendalikan dengan tepat dan bersifat destruktif maka amarah akan berpotensi besar untuk menimbulkan masalah baru, seperti masalah di tempat kerja, di keluarga, atau pun hubungan interpersonal. Faktor penyebab mengapa seseorang menjadi marah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: external dan internal. Faktor external adalah hal-hal yang datang dari luar diri sang individu. Contoh: Anda marah kepada atasan atau bawahan anda; anda juga bisa menjadi marah karena terjebak macet atau tertundanya jadwal penerbangan. Di samping hal-hal external tersebut, kemarahan juga dapat disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang ada di dalam diri anda. Dengan kata lain ada unfinished business yang bisa memicu anda untuk marah. Contoh: ketakutan atau kekuatiran terhadap suatu hal tertentu, ketidakmampuan dalam berinteraksi, adanya pengalaman traumatik atau pun kenangan pahit di masa lalu. Pemberang vs Kalem Sehubungan dengan kemarahan, dalam kehidupan sehari-hari seringkali dijumpai bahwa ada individu-individu tertentu yang sangat gampang marah. Mereka bisa marah terhadap hal apa saja, dengan siapa saja dan kapan saja. Singkat kata mereka ini lebih banyak menunjukkan kemarahan dibandingkan dengan individu-individu lainnya. Individu-individu seperti inilah yang biasa di sebut "Pemberang" atau sering pula disebut sebagai orang yang "emosional" (meski istilah ini menurut saya kurang tepat). Individu-individu ini amat sering terlihat mengomel, menggerutu, memboikot atau menarik diri dari pergaulan, berteriak, bahkan sampai melemparkan barang-barang atau mengeluarkan kata-kata tidak senonoh. Sementara itu kita juga menjumpai bahwa ada individu yang jarang sekali terlihat marah bahkan seolah-olah tidak pernah marah. Mereka tidak meluapkan kemarahan dengan cara meledak-ledak tetapi lebih terlihat tenang-tenang saja (kalem) atau paling-paling hanya sebatas menggerutu atau mengeluh. Individu yang mudah sekali menjadi marah biasanya adalah mereka yang memiliki tingkat toleransi yang rendah terhadap suatu tekanan atau hal-hal yang menyebabkan rasa frustrasi (low tolerance for frustration). Individu seperti ini menganggap bahwa mereka tidak selayaknya menerima kondisi yang tidak menyenangkan. Mereka sangat sulit mengambil hikmah dari situasi yang tidak menyenangkan dan menjadi marah ketika situasi "tidak berpihak" mereka seperti ketika sedang dikritik atau ditegur karena melakukan suatu kesalahan. Adapun faktor yang bisa menjadi penyebab mengapa individu tertentu gampang sekali menjadi marah dapat dibagi dalam beberapa faktor sebagai berikut: 1. Genetik Fakta genetik menunjukkan bahwa beberapa anak memang terlahir dengan karakteristik mudah marah. Hal ini bisa dilihat pada awal-awal tahun kehidupan sang anak. 2. Sosial-Budaya Dalam budaya masyarakat tertentu amarah atau marah sering dianggap sebagai suatu hal yang negatif. Individu seringkali diajarkan bahwa mengungkapkan atau melepaskan kecemasan, depresi atau emosi yang lain adalah baik kecuali kemarahan. Akibatnya individu menjadi tidak pernah belajar bagaimana mengatasi rasa marah ataupun mengekpresikan kemarahan secara konstruktif. 3. Latarbelakang Keluarga Tak bisa dipungkiri bahwa faktor keluarga memainkan peranan yang signifikan terhadap gampang atau tidaknya seseorang menjadi marah. Nampaknya pepatah kuno yang mengatakan bahwa "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" masih berlaku. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu-individu yang gampang marah seringkali berasal dari keluarga yang berantakan dan tidak trampil dalam mengungkapkan emosi ataupun berkomunikasi. Selain itu dijumpai pula bahwa orangtua yang "pemberang" cenderung menghasilkan anak yang pemberang pula (workplaceblue.com). Beberapa Pendekatan Anda tidak mungkin menghilangkan atau menghindari sesuatu yang menjadi penyebab kemarahan. Andapun akan sangat sulit (bahkan tidak mungkin) untuk bisa mengubah orang lain agar tidak membuat anda marah. Satu hal yang bisa ada lakukan adalah mnegndalikan emosi anda sendiri. Dalam rangka menyalurkan dan mengendalikan kemarahan, maka ada tiga pendekatan yang bisa dipilih: 1. Mengekspresikan Kemarahan secara Asertif Mengekspresikan kemarahan anda dengan cara assertif - tidak agresif - merupakan cara yang paling sehat dalam mengungkapkan kemarahan. Untuk bisa melakukan hal ini maka anda harus belajar menentukan kebutuhan-kebutuhan anda dan bagaimana cara mencapainya tanpa harus menyakiti orang lain. Dengan bertindak asertif berarti anda menghormati diri anda sendiri dan orang lain. (baca artikel: Asertivitas) 2. Menahan Amarah dan Mengalihkannya Hal ini terjadi ketika anda menahan rasa marah, berhenti memikirkannya dan mencoba memfokuskan diri pada sesuatu hal yang positif. Tujuannya adalah agar dapat mengurangi rasa marah yang sedang meluap dan mengubahnya menjadi tindakan yang konstruktif. Contoh: ketika sedang marah maka anda justru bekerja lebih lama dan produktif. Sayangnya cara ini bisa merugikan diri sendiri. Artinya jika kemarahan yang ditekan tersebut sudah sangat banyak dan tidak pernah dikeluarkan maka dapat mengakibatkan hipertensi, depresi atau pun tekanan darah tinggi. 3. Menenangkan Diri Cara lain yang bisa ditempuh dalam mengendalikan kemarahan adalah dengan cara menenangkan diri, menarik nafas dalam-dalam dan mencoba meredakan emosi.. Dalam hal ini ketika amarah datang maka anda segera mengambil jarak dari sumber penyebab kemarahan dan mencoba untuk mengendalikan emosi yang sedang bergejolak di dalam diri anda sendiri. Dengan demikian diharapkan bahwa amarah yang ada di dalam diri anda berangsur-angsur mereda. Mengendalikan Amarah Beberapa hal berikut ini mungkin layak anda pertimbangkan untuk mengendalikan amarah: 1. Relaksasi Melakukan relaksasi terbukti dapat membuat seseroang menjadi tenang dalam menghadapi berbagai situasi yang kurang menyenangkan atau penuh tekanan. Relaksasi dapat dilakukan dengan berbagai variasi, misalnya menarik nafas dalam-dalam, melakukan latihan-latihan ringan untuk mengendurkan otot-otot, atau pun dengan kata-kata: "relaks; tenang aja; take it easy; gak apa-apa kok". 2. Humor Meskipun amarah merupakan suatu hal yang serius tetapi jika anda mau merenungkan atau mencermatinya secara mendalam maka tidak jarang di dalam kemarahan seringkali tersimpan hal-hal yang bisa membuat anda tertawa. Bahkan seringkali anda menemukan bahwa hal-hal yang menjadi penyebab kemarahan adalah suatu hal yang lucu dan sangat sepele. Namun demikian dalam penggunaan humor hendaklah perlu diperhatikan 2 hal: 1) jangan menggunakan humor hanya untuk mentertawakan masalah yang sedang anda hadapi tetapi gunakan humor sebagai suatu cara yang konstruktif untuk menyelesaikan masalah; 2) jangan menggunakan humor-humor yang bersifat kasar atau sarkastik sebab hal itu merupakan bentuk ekspresi kemarahan yang tidak sehat. 3. Mengubah Cara Pandang Individu yang sedang marah cenderung mengumpat, mengutuk, menyumpah dan mengucapkan berbagai macam kata-kata yang menggambarkan perasaan di dalam hatinya. Ketika sedang marah maka pikiran anda dan tindakan bisa menjadi berlebih-lebihan dan dramatis. Oleh karena itu cobalah mengubah pikiran-pikiran yang berlebih-lebihan tersebut dengan suatu yang rasional. Contoh: daripada anda mengatakan: "ah, ini sangat mengerikan, hancur semuanya, ini adalah mimpi buruk bagi saya", cobalah mengubahnya dengan : "ya memang hal ini membuat saya frustrasi, dan saya bisa memahami mengapa saya menjadi marah, tetapi ini bukanlah akhir dari segala-galanya bagi saya dan kemarahan tidak akan mengubah apa-apa". Mengingat bahwa amarah seringkali berubah menjadi irasional maka untuk mengendalikannya dibutuhkan pemikiran yang logis. Semakin anda bisa berpikir logis (bisa mempertimbangkan akibatnya dan berpikir jauh ke depan, dsb) maka akan semakin mudah anda mengendalikan amarah dalam diri. Ingatkan diri anda bahwa apa yang sedang terjadi pasti tidak hanya dialami oleh anda seorang diri dan dunia tidak pernah berpaling dari anda. Apa yang sedang terjadi hanyalah merupakan suatu "tinta merah" dalam kehidupan anda. Ingat-ingat akan hal ini setiap kali anda merasa marah supaya anda bisa mendapat pandangan yang lebih seimbang. 4. Selesaikan Masalah secara Tuntas Mengingat bahwa kemarahan bisa dipicu oleh hal-hal yang datang dari dalam diri seperti adanya masalah yang belum terselesaikan, maka akan sangat baik jika anda menyelesaikan setiap masalah yang muncul sesegara mungkin dan tuntas. Meskipun dalam hidup mungkin ada masalah yang bisa terselesaikan tanpa campurtangan anda secara signifikan, namun alangkah baiknya jika anda membiasakan diri menyelesaikan setiap permasalahan yang berhubungan dengan diri anda. Dengan berkurangnya beban psikologis dalam diri anda maka kemungkinan menjadi marahpun akan berkurang. 5. Melatih cara Berkomunikasi Dalam banyak kasus orang menjadi marah karena kegagalan dalam berkomunikasi. Contoh: ketidaksiapan dalam menghadapi perbedaan pendapat, tidak bersedia menjadi pendengar atau pun selalu berusaha memaksakan kehendak pada orang lain. Hal-hal seperti inilah yang biasanya membuat orang yang marah cenderung mengambil kesimpulan secara cepat dan kesimpulan tersebut seringkali aneh dan tak terduga. Meskipun setiap individu berhak untuk membela diri ketika dikritik atau diajak adu argumentasi, namun untuk itu diperlukan ketenangan dan sikap untuk tidak merespon secara terburu-buru. Ada baiknya anda mendengarkan secara cermat apa yang ingin disampaikan oleh orang lain, bahkan ketika orang tersebut mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan anda. Hal ini memang memerlukan kesabaran dan sikap rendah hati dari anda, tetapi dampaknya akan sangat bermanfaat sebab ketika tidak timbul amarah dalam diri anda maka situasi yang ada pasti dapat dikendalikan. Hasil positifnya anda menjadi lebih matang dalam berkomunikasi. 6. Mengubah Lingkungan Apa yang dimaksudkan dengan mengubah lingkungan dapat berupa penataan kembali tempat tinggal ataupun tempat kerja anda. Mengubah lingkungan dapat juga berarti merubah aturan main yang berlaku di lingkungan tersebut dan juga termasuk mengubah kebiasaan diri anda sendiri untuk menghindari lingkungan yang tidak menyenangkan atau keluar dari lingkungan tersebut untuk sementara waktu. Contoh: daripada anda menjadi marah-marah kepada rekan kerja karena jenuh dengan kondisi kerja yang ada, maka ada baiknya anda mengambil cuti kerja dan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Dengan cara ini maka pikiran anda akan menjadi fresh kembali dan siap bekerja tanpa marah-marah. 7. Melakukan Konseling Mengingat bahwa setiap individu memiliki sumber daya yang berbeda dalam menghadapi suatu situasi yang penuh tekanan maka ketika anda merasa bahwa anda tidak lagi mampu mengendalikan amarah maka ada baiknya jika anda melakukan konseling dengan psikolog atau para profesional lainnya. Melalui bantuan para profesional ini anda mungkin akan diberikan bimbingan bagaimana cara-cara yang tepat dalam mengendalikan amarah agar tidak merusak aspek kehidupan yang lain. Tentu saja hasilnya tidak akan instant tetapi setidaknya hal itu akan membantu anda menjadi lebih baik. Disamping hal-hal yang telah disebutkan diatas, mungkin masih banyak cara yang dapat dilakukan oleh anda untuk mengendali amarah di dalam diri. Salahsatu yang patut dicatat adalah dengan semakin mendekatkan diri pada TUHAN. Dengan kata lain ketika anda berada dalam situasi tidak menyenangkan dan anda ingat bahwa hal tersebut adalah dari TUHAN maka saya yakin anda pasti akan berpikir panjang untuk benar-benar menjadi marah. Akhir kata: anda tidak akan pernah bisa menghilangkan amarah tetapi anda bisa mengendalikannya. Hidup pasti akan selalu diwarnai oleh suka dan duka, frustrasi, kepahitan dan kehilangan, serta tindakan yang tak terduga dari orang lain atau lingkungan. Anda tidak bisa menghindari hal tersebut tetapi anda bisa mengubah cara bagaimana hal itu bisa mempengaruhi diri anda. Mengendalikan amarah akan membuat anda menjadi lebih tenang dan mampu menikmati hidup selamanya. Semoga berguna....
Gabungan 3M Dalam bahasa gaul harian, pede yang kita maksudkan adalah percaya diri. Semua orang sebenarnya punya masalah dengan istilah yang satu ini. Ada orang yang merasa telah kehilangan rasa kepercayaan diri di hampir keseluruhan wilayah hidupnya. Mungkin terkait dengan soal krisis diri, depresi, hilang kendali, merasa tak berdaya menatap sisi cerah masa depan, dan lain-lain. Ada juga orang yang merasa belum pede dengan apa yang dilakukannya atau dengan apa yang ditekuninya. Ada juga orang yang merasa kurang percaya diri ketika menghadapi situasi atau keadaan tertentu. Berdasarkan praktek hidup, kita bisa mengatakan bahwa yang terakhir itu normal dalam arti dialami oleh semua manusia. Sebenarnya apa sih yang kita maksudkan dengan istilah pede itu? Kalau melihat ke literatur ilmiahnya, ada beberapa istilah yang terkait dengan persoalan pede ini. Di sini saya hanya ingin menyebutkan empat saja: § Self-concept: bagaimana Anda menyimpulkan diri anda secara keseluruhan, bagaimana Anda melihat potret diri Anda secara keseluruhan, bagaimana Anda mengkonsepsikan diri anda secara keseluruhan. § Self-esteem: sejauh mana Anda punya perasaan positif terhadap diri Anda, sejauhmana Anda punya sesuatu yang Anda rasakan bernilai atau berharga dari diri Anda, sejauh mana Anda meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat atau berharga di dalam diri Anda § Self efficacy: sejauh mana Anda punya keyakinan atas kapasitas yang Anda miliki untuk bisa menjalankan tugas atau menangani persoalan dengan hasil yang bagus (to succeed). Ini yang disebut dengan general self-efficacy. Atau juga, sejauhmana Anda meyakini kapasitas anda di bidang anda dalam menangani urusan tertentu. Ini yang disebut dengan specific self-efficacy. § Self-confidence: sejauhmana Anda punya keyakinan terhadap penilaian Anda atas kemampuan Anda dan sejauh mana Anda bisa merasakan adanya “kepantasan” untuk berhasil. Self confidence itu adalah kombinasi dari self esteem dan self-efficacy (James Neill, 2005) Berdasarkan itu semua, kita juga bisa membuat semacam kesimpulan bahwa kepercayaan-diri itu adalah efek dari bagaimana kita merasa (M1), meyakini (M2), dan mengetahui (M3). Orang yang punya kepercayaan diri rendah atau kehilangan kepercayaan diri memiliki perasaan negatif terhadap dirinya, memiliki keyakinan lemah terhadap kemampuan dirinya dan punya pengetahuan yang kurang akurat terhadap kapasitas yang dimilikinya. Ketika ini dikaitkan dengan praktek hidup sehari-hari, orang yang memiliki kepercayaan rendah atau telah kehilangan kepercayaan, cenderung merasa / bersikap sebagai berikut : § Tidak memiliki sesuatu (keinginan, tujuan, target) yang diperjuangkan secara sungguh-sungguh § Tidak memiliki keputusan melangkah yang decissive (ngambang) § Mudah frustasi atau give-up ketika menghadapi masalah atau kesulitan § Kurang termotivasi untuk maju, malas-malasan atau setengah-setengah § Sering gagal dalam menyempurnakan tugas-tugas atau tanggung jawab (tidak optimal) § Canggung dalam menghadapi orang § Tidak bisa mendemonstrasikan kemampuan berbicara dan kemampuan mendengarkan yang meyakinkan § Sering memiliki harapan yang tidak realistis § Terlalu perfeksionis § Terlalu sensitif (perasa) Sebaliknya, orang yang kepercayaan diri bagus, mereka memiliki perasaan positif terhadap dirinya, punya keyakinan yang kuat atas dirinya dan punya pengetahuan akurat terhadap kemampuan yang dimiliki. Orang yang punya kepercayaan diri bagus bukanlah orang yang hanya merasa mampu (tetapi sebetulnya tidak mampu) melainkan adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya mampu berdasarkan pengalaman dan perhitungannya.
Oleh: Team e-psikologi Beberapa faktor yang dapat mempngaruhi motivasi kelompok (teamwork) dalam bekerja dapat dikategorikan sebagai berikut: Tujuan Visi, misi dan tujuan yang jelas akan membantu team dalam bekerja. Namun hal tersebut belum cukup jika visi., misi dan tujuan yang ditetapkan tidak sejalan dengan kebutuhan dan tujuan para anggota.. Tantangan Manusia dikarunia mekanisme pertahanan diri yang di sebut “fight atau flight syndrome”. Ketika dihadapkan pada suatu tantangan, secara naluri manusia akan melakukan suatu tindakan untuk menghadapi tantangan tersebut (fight) atau menghindar (flight). Dalam banyak kasus tantangan yang ada merupakan suatu rangsangan untuk mencapai kesuksesan. Dengan kata lain tantangan tersebut justru merupakan motivator. Namun demikian tidak semua pekerjaan selalu menghadirkan tantangan. Sebuah team tidak selamanya akan menghadapi suatu tantangan. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya memberikan suatu tugas atau pekerjaan yang menantang dalam interval. Salah satu criteria yang dapat dipakai sebagai acuan apakah suatu tugas memiliki tantangan adalah tingkat kesulitan dari tugas tersebut. Jika terlalu sulit, mungkin dapat dianggap sebagai hal yang mustahil dilaksanakan, maka team bisa saja menyerah sebelum mulai mengerjakannya. Sebaliknya, jika terlalu mudah maka team juga akan malas untuk mengerjakannya karena dianggap tidak akan menimbulkan kebanggaan bagi yang melakukannya. Keakraban Team yang sukses biasanya ditandai dengan sikap akraban satu sama lain, setia kawan, dan merasa senasib sepenanggungan. Para anggota team saling menyukai dan berusaha keras untuk mengembangankan dan memelihara hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal menjadi sangat penting karena hal ini akan merupakan dasar terciptanya keterbukaan dan komunikasi langsung serta dukungan antara sesama anggota team. Tanggungjawab Secara umum, setiap orang akan terstimulasi ketika diberi suatu tanggungjawab. Tanggungjawab mengimplikasikan adanya suatu otoritas untuk membuat perubahan atau mengambil suatu keputusan. Team yang diberi tanggungjawab dan otoritas yang proporsional cenderung akan memiliki motivasi kerja yag tinggi. Kesempatan untuk maju Setiap orang akan melakukan banyak cara untuk dapat mengembangkan diri, mempelajari konsep dan ketrampilan baru, serta melangkah menuju kehidupan yang lebih baik. Jika dalam sebuah team setiap anggota merasa bahwa team tersebut dapat memberikan peluang bagi mereka untuk melakukan hal-hal tersebut di atas maka akan tercipta motivasi dan komitment yang tinggi. Hal ini penting mengingat bahwa perkembangan pribadi memberikan nilai tambah bagi individu dalam meningkatkan harga diri. Kepemimpinan Tidak dapat dipungkiri bahwa leadership merupakan faktor yang berperan penting dalam mendapatkan komitment dari anggota team. Leader berperan dalam menciptakan kondisi yang kondusif bagi team untuk bekerja dengan tenang dan harmonis. Seorang leader yang baik juga dapat memahami 6 faktor yang dapat menimbulkan motivasi seperti yang disebutkan diatas. (Dari berbagai sumber)
seharusnya aku nda ktemu ma kamu... seharusnya aku nda kenal ma kamu... seharusnya aku nda dengerin waktu kamu bilang sayang ke aku... seharusnya aku nda jawab kalo aku juga sayang kamu... tapi yang jelas... seharusnya kita bisa bersama... Amin...
Yaa....Rabb, dalam hembusan nafasku ku bersimpuh, dalam desahan jiwaku ku mengadu, dalam belaian kasihmu ku merajut harapan..... Yaa...Rabb, aku hamba-Mu yang tak tau bersyukur, namun kau limpahkan Rizki-Mu, aku hamba-Mu yang terkadang luput dari ibadah, namun kau berikan Kasih-Mu, aku hamba-Mu yang penuh nista dan dosa, namun Engkau senantiasa hadir dalam dukaku.... Yaa....Rahman ampuni hamba dari segala kealpaan hamba dari mengingat-Mu, ampuni hamba karena segala keangkuhan dan kesombongan ini, ampuni hamba karena semua rengkuhan nista dan dosa ini...yaa Ilahi Rabbi Yaa...Ilahi Rabbi Jagalah diri dan jiwa ini dengan kasih-Mu, Kuatkanlah pancang kaki ini tuk menapak di jalan-MU, Kuatkanlah jasad ini dengan keagungan rahmat-MU, Kuatkan ruh dien dalam sanubari ini dengan ruh-Mu, Hanya pada Engkau hamba bersimpuh dan memohon ampun .... yaa Ilahi Rabbi
 | my site | Sep 25, '07 10:33 AM for everyone |
| |